Aku Perempuan, Nistakah Jika Aku Mendua?

Penulis: Jingga

Rangga…

Manusia berkelamin laki-laki yang beku. Beku! Rutukku berulang kali. Aku selalu ingin lepas dari setiap ikatan rasaku dengannya. Tapi sekali lagi cinta terlalu arogan dalam egonya. Sia-sia aku meronta, sia-sia aku membakar tudung-tudung cinta itu, biar hangus jadi abu. Yang ada bukannya hangus menjadi serpihan dan lenyap bersama angin. Dia malah menjadi hantu. Hantu cinta yang mencengkeramku dan taringnya menghisap setiap darahku tanpa ampun.

Rangga. Uuuuft…. Andai waktu bisa diputar ulang, aku ingin kembali saat aku belum mengenalnya. Aku tidak akan pernah melihat drama monolog 3 watak yang dia mainkan. Sehingga aku tidak akan terpasung dalam jerat pesona maskulinnya.

Rangga. Dia hanya boneka salju tanpa hati! Aku benci dengan sangat! Tapi sialnya aku cinta, terpaksa aku katakan dengan sangat pula!

Bagaimana aku tidak merasa sepi, jika dia hanya datang padaku hanya saat hasrat sang Adam menuntut pelukan Hawa, kisah erotis jaman manusia masih berdua hingga beranak pinak memenuhi jagad raya.

Ya! Hanya sekedar dengan episode erotis, itupun harus aku awali dengan pintaku yang setengah memaksa. Setelahnya dia akan membeku kembali atau dia hilang entah kemana. Aku perempuan utuh! Bukan hanya bervagina tapi juga berhati. Mengapa dirimu tak pernah sadari itu? Aaahhh…, lagi-lagi aku hanya berorasi monolog tanpa aku bisa melihat cinta yang dia ucapkan untukku.

Salahkah jika hatiku goyah saat Dimas begitu terlihat menginginkanku? Aku sudah berkali-kali menghalau hadirnya. Tapi satu langkah menyerah tidak pernah dia ambil, dia tidak peduli dengan apapun, bahkan keinginanku untuk tidak lagi bertemu dengannya sama sekali tidak dia perhitungkan. Dan aku…, aku perempuan lemah yang kesepian. Aku selalu hanyut dan hanyut lagi. Aku gagal setia lagi dan lagi.

Dosa terlalu nikmat. Tak ada dosa yang tak manis. Awalnya hanya pelukan kecil yang berusaha aku halau, walaupun hausku menuntut pemenuhan itu. Tetapi cara Dimas menggiringku perlahan dengan semua sayangnya, dengan semua kehangatannya perlahan tapi pasti aku hanyut dalam pusaran libido yang membuatku lupa segalanya.

“Luka, aku suka keliaranmu, aku suka setiap desahanmu, aku menikmati setiap rintihan ampunmu saat aku cumbu dirimu”.

“Jangan lanjutkan kalimatmu Dimas, kumohon…. Setiap kalimatmu mengingatkan rasa bersalahku pada Rangga, cukup nikmati aku tanpa banyak kata, biarkan kata nikmat itu hanya milik Rangga.”

“Tapi dirimu liar dan mempesona sayang….”

“Seandainya Rangga yang mengatakan ini? Aku ini milik Rangga…. Dia bisa minta aku kapanpun dia mau, dia bisa nikmati semuanya semaunya, aku miliknya…, tapi dia nyaris tak pernah bersuara, bahkan untuk sebuah pelukan, aku harus terlebih dulu meminta setengah memaksa padanya,” keluhku lemah.

“Laki-laki bodoh!” jawab Dimas pendek. Lalu dia kecup keningku.

***

“Sayang…, hari ini apa rencanamu?”

“Mandi dulu, setelah mandi, keliling”

“Ke mana?”

“Keliling. Di jalan.”

Aku tahu jawaban Rangga adalah jawaban penutup yang tidak mungkin aku teruskan lagi. Aku beranjak dari tempat dudukku. Menghampirinya yang sibuk dengan gadgetnya. Aku pelacurnya. Ya…, aku pelacur untuknya. Aku menggodanya dengan pelukan dan sentuhanku. Sampai kami terbang dalam tapal batas nikmat yang berusaha aku bangun semampuku untuknya. Setelahnya begitu saja dia pergi tanpa pelukan terima kasih, tanpa senyum sayang. Aku hanya mengantar punggungnya menjauh. Hanya itu.

***

Dalam sendiriku jiwaku tak pernah tenang. Gelisah! Aku selalu gelisah! aku tertekan dengan pusaran yang aku mainkan sendiri.

Duh Gusti…, apa yang harus aku putuskan? Bagaimana bila semua perselingkuhanku dengan Dimas terbongkar? Bagaimana jika suatu saat Rangga sedikit saja curiga? Aku tidak ingin bahkan tidak sanggup kehilangan dia.

Tapi Dimas…, bagaimana mungkin aku bisa lepas darinya? Keperempuananku butuh dia! Aku butuh setiap kehangatannya, aku butuh setiap sayangnya, aku butuh cara dia menjagaku, semua! Semuanya! Tapi aku tak pernah mencintainya. Gusti…. Apa yang harus aku pilih? Rangga dengan semua bekunya atau Dimas?”

Aku harus lepas salah satu dari mereka. Harus! Tapi…, mungkinkah Dimas rela melepasku setelah enam tahun terakhir dia menginginkanku? Aku tahu dia. Dia tidak akan pernah menyerah dengan segala inginnya.

Aku harus bisa selesaikan ini. Terpaksa harus bisa!

“Hallo, Dimas….”

“Iya…, sayang…. Ada apa jam segini menelponku?”

“Aku ingin kita bertemu.”

“Rupanya bidadariku lagi rindu, yaah….”

“Ah…, apapun itu, aku ingin kita bertemu, aku haus kamu.”

“Sabar sayang…. Kapanpun kau mau. Di mana? Aku ke tempatmu ya? Lelakimu sudah pergi kan?”

“Iyaa…. Kamu datang saja, Rangga sudah pergi.”

“Tunggu aku sayang….”

Lalu aku matikan ponselku. Aku siapkan diriku menunggu Dimas.

***

“Sayang…, hari ini kau milikku, kau milikku sayang….” Dimas ucapkan kalimat itu sepenuh hati. Ada telaga yang begitu tenang aku dapatkan dari kedua matanya. Tulus…, Dimas terlalu tulus menginginkanku.

“Dimas, kasihan kamu….” Ucapku lirih, sambil kuserahkan tubuhku dalam pelukan lelaki di depanku.

Dimas tidak lagi melanjutkan dialog kami. Aku dan dia saling pagut, saling gulung dalam detak purba Adam-Hawa. Musik purba yang dicibir dan dirindui seluruh insan di muka bumi. Aku melayang bak seorang putri tercantik dalam setiap napas-napas pemujaannya. Aah…, Dimas, dia mampu membawaku dalam puncak nikmat dosa tergila.

“Terimakasih sayang….” ucap Dimas sambil dia kecup lembut keningku.

“Sama-sama…. Kamu pasti lelah, tidurlah. Aku mau bersihkan tubuhku dulu.”

“Jangan pergi sayang, temani aku dulu di sini.” Dimas meraih tubuhku dan memeluknya.

Aku menepisnya dengan lembut. “Dimas…, tidurlah sayang. Aku ingin siapkan makan siang untukmu…,” aku beranjak dari sisinya.

Di kamar mandi aku gemetar, aku sangat gelisah. Haruskah langkah ini yang aku pilih? Aah…. Aku harus lakukan ini sebelum semua terlambat! Sebelum Rangga tahu semuanya. Dengan tetap gemetar aku selesaikan membersihkan tubuhku. Ku bungkus tubuhku dengan handuk merah. Aku berjalan menuju dapur. Sebilah pisau yang masih mengkilat aku siapkan. Daun selada yang pagi tadi baru aku beli dari supermarket aku geletakkan begitu saja.

Aku kembali ke kamarku, kulihat Dimas begitu pulas dalam tidurnya.
Ah sayang…, kau terlalu baik, kau terlalu manis dalam celah hariku. Andai saja aku bisa menempatkan hatiku pada jiwamu, pasti kita akan bahagia, pasti semua tak serumit ini. Rutukku dalam hati, sambil terus kutatap kedua matanya yang terpejam.

Maafkan aku sayang…. Kau pasti rela lakukan ini demi aku. Bukankah enam tahun ini kau sangat mencintaiku. Jadi ijinkan aku bahagia. Tanpa berpikir panjang lagi kutancapkan mata pisau itu tepat di ulu hatinya. Dimas hanya sebut namaku sebentar sebelum nyawanya lepas dari raganya. Tanganku membantu kedua matanya agar terkatup rapat.

“Maafkan aku sayang…. Aku tak akan bisa tenang selama dirimu terus hilir mudik di hidupku, aku yakin kau pasti ikhlas pergi untukku.”

Aku tidak tahu harus aku simpan dimana jasad Dimas. Dengan tangan yang masih sangat gemetar aku duduk di ruang tengah, menyalakan rokokku dan menghisapnya dalam-dalam.

“Sayang…, kamu di mana?” aku tak bisa tutupi suaraku yang sangat gemetar saat aku menghubungi Rangga lewat ponselku.

“Di jalan. Kamu kenapa? Suaramu….”

“Sayang…, aku… aku…, aku… takut…. Pulang… pulanglah sebentar…,” jawabku terbata.

“Ada apa? Aku masih di jalan.”

Please…, Rangga…, please…. Sekalii ini saja…. Tolong dengar pintaku…. Please…. Aku mohon…. Demi apapun…, pulanglah sayang….”

“Iya. Tunggu saja. Aku di jalan”

Empat jam sudah berlalu, tetapi Rangga belum juga datang. Pesan yang aku kirim lewat ponsel memohonnya pulang berkali-kali, jangankan dibalas, bahkan dibacapun tidak. Aku makin gemetar, tidak berani masuk dalam kamar, jenasah Dimas sangat menakutkan bagiku. Aku takut! Sangat takut! Pisau bersimbah darah itu masih di tanganku. Aku gemetar! Dan lelaki yang paling aku cintai tetap tak ada di sampingku.
Sampai akhirnya setelah delapan jam aku menunggu. Langkah Rangga dapat aku dengar. Malam telah larut. Aku tetap di sofa ruang tengah dengan pisau, rokok dan segunung ketakutanku. Saat aku sadar langkah Rangga makin mendekat, aku sembunyikan pisau itu dibelakang punggungku. Rangga datang menghampiriku, dia memelukku.

“Dirimu kenapa? Sakit? Tubuhmu gemetar sayang….”

“Aku takut Rangga…, aku takut…. Kamu lama sekali pulang. Aku takut.”

“Aku masih di jalan. Ada apa? Ada apa sayang? Jangan membuatku bingung….”

“Aku…, aku…. Peluk aku yang erat Rangga. Peluk aku…, Kumohon…, peluk aku….”

Rangga memelukku erat, tanganku meraih pisau di belakangku secepat mungkin. Dan kubenamkan pada punggung Rangga.

“Aaagggghh…, kau….”

Tak sempat Rangga teruskan teriakannya. Dia sudah kembali jatuh terkulai dipelukanku. Aku temani dia meregang nyawanya.

“Sayang, akhirnya sumpahku telah aku penuhi, aku di sampingmu sampai akhir napasmu, aku mengantarmu pergi tanpa engkau pernah tahu perselingkuhanku.  Selamat jalan lelakiku…,” dan Rangga melepas napas terakhirnya.

“Lunas! Kedua laki-laki yang membuatku terlalu gelisah telah tiada, aku Kirana Luka Prabowo telah tunaikan amanat jiwaku!” Semua hanya keinginan logika rasa yang lelah berdarah. Lelah terluka. Jika saatnya membusuk. Apakah aku yang salah?!

***

Cinta tak bisa hanya menjadi sebuah sumpah yang tertulis dengan titik-titik darah tanpa tindak nyata. Saat tuturmu  janjikan cinta maka bergeraklah, sebelum bekumu mengubah semuanya menjadi titik-titik hambar, cikal bakal sebuah bara besar yang akan menghancurkanmu atau orang yang kau cintai. Sudahkah kau berikan sebuah tindakan cinta sederhana untuk  mereka yang kau sebut belahan jiwamu? Senyum lembutmu akan hangatkan jiwanya. Karena rasa dicintai tak akan terbayar oleh apapun! 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here