Anak Muda Jadi Petani Kopi? Siapa Takut

Firman, 29 tahun, petani kopi Gambung, Merkarsari, Bandung, dan Master Trainer SCOPI.

SintesaNews.com – Udara sejuk di kawasan Bandung Selatan menggelorakan semangat para pemuda di wilayah itu. Perkembangan pertanian kopi di kawasan tersebut makin menggeliat dengan bermunculannya generasi-generasi baru para pemuda yang bergelut di bidang pertanian dan pengembangan industri kopi.

Salah satunya adalah Firman, 29 tahun, petani kopi di Kampung Gambung, Mekarsari, Pasirjambu, Bandung.

Sejak usia 13 tahun Firman memang sudah mengenal pertanian kopi yang digarap secara tradisional di daerahnya. Karena secara sejarah, di kawasan ini pertanian kopi telah diperkenalkan sejak jaman Belanda. Rudolph Eduard Kerkhoven adalah yang membawa tanaman kopi ke sana. Ia menjadi perintis perkebunan di wilayah Gambung, Mekarsari.

Di usia beranjak remaja itu dulu Firman hanya tau bahwa tanaman kopi dipanen lalu dijual dengan harga Rp 4.000 per kg. Tanpa seleksi cherry yang merah dan tanpa proses pasca panen.

Saat itu Firman mulai belajar bagaimana cara berkebun kopi.

“Dulu cherries (buah kopi yang merah) harganya murah dan fluktuatif. Lalu kemudian di tahun 2008, kebetulan ada satu perusahaan yang masuk ke sini dengan harga yang cukup bagus (PT JAVANERO).  Setelah perusahaan masuk, harga cherries mulai stabil dan unggul,” kenang pria yang sudah menikah dan dikaruniai 1 anak ini.

“Petani juga diberi pelatihan bagaimana cara budidaya kopi yang baik. Dari situ saya banyak belajar dan terus belajar sampai sekarang dengan menjual biji kopi yang telah diproses dengan unggul dan mendapatkan harga yang baik,” ujar Firman.

Kini, kopi-kopi arabika dari Firman dan para petani di Gambung sudah merambah ekspor ke mancanegara, antara lain Selandia Baru dan beberapa negara lainnya. Ekspor greenbeans kopi melalui kerjasama dengan Javanero sempat mencapai angka 12 ton per bulan.

Firman menceritakan bagaimana saat Javanero masuk kampungnya, para petani diajarkan teknik panen yang lebih baik sampai proses pasca panennya.

“Harapannya petani bisa jual greenbeans, agar ada nilai lebih. Tapi ya gitu, belum banyak petani untuk mau proses sampai greenbeans saat itu,” kata pria yang sempat mengecap kuliah di jurusan Manajemen Bisnis namun tidak diteruskannya.

“Mereka gak mau ribet. Pengennya setelah panen langsung jadi uang. Dikejar kejar buat dapur ngebul, hehehe….,” seloroh Firman.

“Dulu jualnya bukan greenbeans. Kita gak tau sama sekali dulu harga greenbeans berapa. Cheries waktu itu harganya 4 ribu rupiah, pas Javanero masuk harga jadi 8 ribu rupiah,” cerita Firman.

Kini para petani di Gambung tidak lagi menjual cherries yang hanya dihargai Rp 8.000, mereka kini menjual greenbeans dari hasil proses pasca panen fullwashed, yaitu seharga Rp 120.000 per kg. Bahkan kini mereka pun sudah menjual roasted beans.

Kopi Gambung, varietas arabika asal Jawa Barat ini enggak kalah dengan Puntang dan Malabar. Bahkan di beberapa kafe, kopi ini digunakan sebagai V60 hingga wine coffee.

Kopi Gambung tidak beda dengan kopi dari Bandung Selatan lainnya. Ditanam pada lahan dataran tinggi, berdampingan dengan berbagai pohon kayu keras dan punya karakter fruity yang kuat. Asam tapi ada manisnya.

Kopi kini dijadikan sumber penghidupan utama para penduduk di Kampung Gambung, padahal dulu hanya sekadar usaha sampingan.

Firman tidak menampik bahwa masih ada tantangan dalam perkembangan pertanian kopi di kampungnya. “Yang paling sulit adalah menaikan produktifitas secara signifikan, karena berada di wilayah milik Perhutani, jadi tanaman penaung tidak bisa atur/potong, sehingga sinar matahari kurang masuk. Juga mengajak petani agar mau bersama dalam kelompok untuk mengolah hingga greenbeans,” jelas Firman

Pandemi corona yang mewabah sejak awal tahun 2020 ini juga membawa dampak tersendiri bagi industri kopi. Ekspor kopi rest dulu. Namun produksi dan penjualan tetap jalan dengan pasar domestik.

“Jadi hasil panen yang saya olah dikirim ke beberapa cafe di Bandung, Jakarta, Bogor, dan konsumen rumahan,” kata Firman.

Pasar kopi, terutama pasar domestik memang masih menjanjikan dalam 5 tahun ke depan. Firman yang juga merupakan salah satu Master Trainer di SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia) telah beberapa kali memberikan pelatihan budidaya kopi hingga ke Papua, masih yakin dengan potensi kebun kopinya yang terletak di Gunung Tilu.

Ada pesan dari seseorang yang ia ingat sebagai motivasinya dalam bekerja agar selalu mencari cara atau jalan keluar untuk mencapai kemajuan.

“Dulu pas awal keluar sekolah, ada orang tua yang tidak bisa saya sebutkan namanya, dia bilang gini, ‘Lamun cicing di lembur, hirup moal aya kamajuan, sok neangan gawe ka luar (kalau tetap diam di Gambung/kampung, hidup gak akan ada kemajuan, coba cari kerja ke kota)’.”

“Dari kalimat itu yang jadi motivasi buat saya. Saya langsung berfikir potensi yang bisa saya maksimalin di kampung halaman agar bisa beraktifitas dan menghasilkan, yaitu kopi,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here