Balada Sang Pematung

Penulis: Granito Ibrahim

Tarno bermimpi ingin menjadi pematung.
Baginya, seniman yang dapat membuat bentuk tiga dimensi adalah sebaik-baiknya manusia.

Entah darimana mendapat bisikan itu,
hari-harinya kini dipenuhi sebuah gagasan:
ingin membuat patung penari.

Dalam perjalanan dari hutan mencari kayu bakar
bertemu ia dengan sebuah batu besar.

Terpana Tarno sesuai lamunannya;
batu besar, karya besar.

Lalu esoknya dentum palu-pahatnya lincah menari
sosok penari mulai merupa.

Tarno bekerja keras, pagi-siang-malam.
Bersama luruh peluh, kesalahan kecil
menghadang, merintang

Tarno mematahkan satu tangan penari.
Seperti angin, cepat tangkas ia ubah menjadi rupa menjangan, setengah ukuran dari sebelumnya.

Rasa lelah menyenggol tangannya,
moncong menjangan pecah sebongkah.

Putar haluan Tarno membentuk tunas kelapa,
teringat masa kecilnya menjadi pramuka.

Diletakkan sisa pecah batu di atas bekas tebangan pohon.
Tapi, setengah bekerja, jatuh patung buah kelapa itu.
Menggelinding pada curam tanah
membentur bebatuan di bibir sungai.

BRAKKK…!

Tunas kelapa setengah hancur, dua terbelah.

Separuhnya ia coba lagi dan coba lagi,
membentuk wujud bunga segenggam ukuran tangan.

Sayang, lupa ia kelopak kembang berapa jumlahnya.
Cuma dua, mana ada?
Bidang batu tak cukup menambah tiga-empatnya.

Tarno berpikir keras, lebih keras dari sebelumnya.

Dan akhirnya, selesai pahatan: sebuah asbak mungil.

Purna ciptaannya, tiga hari setelah
ia menemukan batu besar.

“Perjalanan kesenian,” kata Tarno dalam hati.

Tarno kembali bermimpi ingin menjadi pematung.
lalu menjentik abu rokok di atas asbak karyanya.

“Impian yang belum jadi kenyataan adalah harapan pemicu hidup!”

Entah darimana mendapat bisikan itu,
ia merasa semangatnya kekal.

 

Image: goodbalidrivers

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here