Bandung Masa Lalu Penghasil Artis

Penulis: Roger “Joy” Paulus Silalahi

Lompat dari TK ke SMP, luar biasa kan…? Tenang, bukan saya, tapi cerita terkait kejadian yang sempat melintas di mata saya. Masa itu, ketertarikan pada seni menggairahkan hampir setiap anak muda.

Baca juga: Seberapa Indonesia Kamu? Menjadi Indonesia Sejak TK dengan Nilai-nilai Ke-Indonesia-an

Bandung masih relatif sepi, tapi dikenal sebagai kota penghasil artis Indonesia. Sebut saja Vina Panduwinata, Doel Sumbang, Harry Roesli dengan DKSB-nya, Mang Udjo, Asep Sunarya Sunandar, Gugum Gumbira, Popo Iskandar, Kang Ibing dengan D’ Bodor-nya, dan banyak lagi, semua berasal dari Bandung. Ada apa dengan Bandung masa itu sehingga begitu banyak artis bermunculan dari kota Bandung…?

Ternyata sebagai Ibukota Jawa Barat masa itu memberikan perhatian khusus pada seni, menari, main musik, menyanyi, melukis, bahkan lawak, semua diberikan ruang gerak yang luas, tidak ada pembatasan berekspresi dalam seni di Bandung. Festival tari, nyanyi, pameran lukisan, pentas musik, pagelaran wayang, silahkan pilih, semua silih berganti mengisi hari demi hari dan membuat Bandung sungguh berseri.

Masa itu, Bandung adalah kota yang tenang, tidak ada hiruk pikuk demonstrasi, tidak ada berita persekusi, tidak ada eksklusivisme kelompok, semua membaur menjadi satu.

Malam Minggu Bandung ramai dengan tamu dari Jakarta dan sekitarnya, ramai dengan jajanan khas Bandung, seurabi, jagung bakar, bubur ayam, gulali, dll. Masa itu tidak ada garis batas antar warga. Hiburan ada di mana-mana, gratis kebanyakannya, sungguh sebuah kota yang bahagia.

Seni adalah bagian dari budaya, ekspresi dari manusia dalam mengungkapkan segala keindahan di sekitarnya, dan seni selalu terwujud sebagai hasil dari kebebasan berekspresi manusia. Dalam seni ada pengajaran mengenai budaya, ada keindahan yang harus dipelihara, ada kebersamaan yang membahagiakan sesama.

Tarian, semua mata tertuju pada titik yang sama, menikmati gemulainya tangan mengayun, hentakan dan putaran, keindahan. Semua menikmatinya bersama, hanyut dalam satu rasa, bahagia. Wayang, tidak terlalu berbeda, mata ke titik yang sama, telinga mendengarkan dialog penuh makna yang kadang lucu kadang sedih. Semua menikmatinya bersama, satu rasa, bahagia.

Lain lagi dengan nyanyian. Tidak mengenal waktu dan tempat, tidak mengenal usia, lagu baru dan lama berkumandang, semua menikmatinya, menyanyikannya, kadang sendirian di kamar mandi, kadang bersama dengan teman diiringi gitar dalam pesta ulang tahun yang gembira, satu rasa, bahagia. Alat musik pun demikian, gitar dan kecapi yang dimainkan sendiri, jadi ingat “Braga Stones”, ataupun angklung dan gamelan yang dimainkan bersama-sama, rasa yang ditimbulkannya tidak berbeda, bahagia.

Demikianlah Bandung masa itu, miniatur kecil Indonesia seharusnya, dimana budaya melahirkan seni dan seni mengajarkan budaya. Dimana budaya terpelihara dan memberikan kedamaian, kebahagiaan, kebersamaan, dan keselarasan. Dimana budaya menjadi panglima, mengajarkan tata krama dan penghormatan, sopan santun dan ilmu kepatutan.

Budaya, yang sekarang banyak dipinggirkan, dilemahkan, bahkan diharamkan, sebenarnya adalah fondasi dariĀ  segala bentuk pengejawantahan nilai kehidupan yang kita harapkan. Kesdaran akan hal ini yang harus digelorakan, harus diteriakkan, dan diperjuangkan. Indonesia adalah negara dengan 1.340 suku bangsa, ribuan kelompok budaya, yang keseluruhannya merupakan dasar kehidupan bangsa Indonesia. Indonesia kaya akan budaya, kuat karena budaya.

Berbudaya, ciri Indonesia… Kamu…?

-Roger Paulus Silalahi-

(Artikel ini merupakan bagian dari seri tulisan “Seberapa Indonesia Kamu?”)

Baca artikel lainnnya:

Laki-laki Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here