Bejo dan Miyati

Penulis: Mas Yono Buanergis

Bejo dan Miyati memanggil-manggil,
“Mbahkung
Mas Yonoooo…
kami tahu kau di situuuu…
ini kamiiii…
Bejoooo…
Kemiiiii….”

Mbahkung masih sibuk memainkan aneka jurus.
Seluruh tubuhnya dibalut kain putih kebiruan persis ninja.
Gerakan-gerakan lincah, tangkas, gesit, bahkan bersalto, koprol, bergelayutan di pohon.
Mbahkung menggembleng diri.
Topo Bisu
itu sebabnya tidak menjawab panggilan kedua sahabatnya.

Bejo adalah teman kecil yang mengikuti berbagai aktifitas Mbahkung.
Miyati teman kecil seperti saudara sendiri karena sering bergantian makan minum di rumah, bersama kedua kakaknya dan seorang pamannya memandikan Mbahkung usai nyemplung jumbleng di pekarangan angker Kampung Marsono.

Kampung di mana tiap petang nampak meluncur Antru, Lampor, pohon bambu merunduk ke jalanan, kuda-kuda liar berlarian.

Bejo dan Miyati
sahabat kecil Mbahkung….
Di antara gedung-gedung amis menjulang langit
Mbahkung membiarkan pekarangannya tetap rimbun ber-rawa.
Rawa Kampret
sebab tiap saat beterbangan Kampret pencari serangga.

Sedikit orang paham tentang perbedaan Kampret, Codot, Kelelawar, Kebluk, Gebleg, Kalong, Lowo….

Semuanya serupa, namun tidak sama dari bentuk, warna, pola hidup, hingga makanan mereka.
Kampret tinggalnya nyelempit-nyelempit dan ngumpet-ngumpet bergerombol. Pilihan utama di plafon rumah tua, bawah genteng, dan tempat gelap pengab lainnya. Makanannya serangga. Warnanya hitam, ukurannya kecil dan pipih.

Codot hidup mandiri. Suka di pohon-pohon rimbun terutama yang sedang berbuah, warnanya coklat muda kombinasi coklat tua. Berdada gemuk dan imut.

Lowo berukuran besar, tinggal di rumah-rumah tua dan pohon rindang gelap. Suka juga di goa-goa. makanannya lebih variatif. Mulai dari buah, bunga, hingga pucuk palem muda.

Kalong jenis paling besar sebab kembang sayapnya bila dibentang ada yang satu meter duapuluh centimeter. Berwarna Coklat berpadu keemasan hingga hitam. Ada juga yang putih atau albino
pemakan bunga dan buah.
Hampir semua jenis kelelawar peminum madu ulung.

Gebleg berkeliaran tengah malam. Suka makan tai ayam jenis lincung.
Kebluk ibarat penjaga lubang jumbleng, pemakan nyamuk, dan aneka serangga.
Bejo, Miyati, dan kawan-kawan kecil Mbahkung paham binatang-binatang tersebut, sebab kami pernah menangkapnya.

Bejo dan Miyati setia menunggui Mbahkung berlatih, walaupun mereka tahu bahasa isyarat, sebab mulut Mbahkung tertutup rapat dengan balutan kain putih kebiruan.

Terakhir, Mbahkung melompat ke pohon lalu bergelayut dan menirukan Kalong hinggap saat istirahat…
Topo Kalong
kaki di atas kepala di bawah
lekuk lutut yang mengait di dahan pohon.
“Tidak berubah
Makin sempurna lelakunya.
Topo Ngalong…, kowe bisa, Jo?”
Bejo menggeleng, “Emoh…rakuwat. Mbahkung wis terlatih…kita kan penonton saja, ngancani mergo pingin weruh.”

“Mung nonton, ragelem nglakoni. Cangkemmu suwek, Jo, Bejo.” Miyati njengguk ndase Bejo.
Keduanya lalu pergi meninggalkan Mbahkung di atas pohon. Menggelantung Topo Kalong.

Bali, 0703 2020 02:20 Mbahkung Buanergis Muryono Renungan Zaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here