Bergelayut Senja

Foto: pixabay

Penulis: Melati

“Ahma…. Aku tidak tahu mengapa aku menangis. Ahhh. Aku ingin menangis keras-keras Ahmaaa….”

Aku tidak bisa menahan tangis yang lama kusembunyikan. Aku peluk tubuh kecil Ahma yang sedang ku-massage.

Ahma yang seorang penyayang hanya diam. Ahma diam karena tidak tahu mau berbuat apa untukku atau karena rasa sakit dia derita, aku tidak tahu. Terlihat di wajahnya, mata Ahma menatapku sayu, lemah dan sayang.

Mata itu seakan berkata padaku, peluklah aku kuat-kuat Nirma, mata itu seakan membujukku dan aku semakin tidak bisa menghentikan tangisku.

“Ahma…, engkaulah Ibuku di sini. Engkau laksana Ibu kandungku. Memelukmu bagaikan memeluk ibu kandungku. menyuapimu bagaikan menyuapi ibu kandungku. Memberimu mandi bagaikan memberi mandi ibuku. Memeriksa kesehatanmu tiap hari bagai memeriksa kesehatan ibuku. Membersihkan lukamu yang demikian parah bagaikan membersihkan luka ibuku.

Aku begitu bahagia, gembira, dan ikhlas melakukan semua karena engkau bagai pengobat rindu dan penebus rasa bersalahku karena tidak bisa merawat ibuku sendiri yang sedang sakit di negeriku….

“Ahma…, setiap detik, setiap menit dan setiap saat aku bisa merasakan apa yang kau rasakan Ahma. Setiap detik, setiap menit, setiap saat hanya doa yang selalu kupanjatkan untuk kebahagiaan dan kenyamananmu dalam pelukanku. Setiap detik, setiap menit, setiap saat itulah aku merasa engkau adalah ibuku yang juga membutuhkan peluk kasih sayangku.”

***

Yach, sudah 1,4 tahun aku di negeri ini, saat aku menulis kisahku. Berarti sudah 1,4 tahun kutinggalkan negeriku. (Dan sampai sekarang, hampir 6 tahun)

Negeri yang benar-benar aku cintai sebetulnya. Negeri yang setiap aku menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan lagu wajib “Indonesia Tanah Airku” selalu tidak kuasa aku menahan ronta di dada.

Kecintaanku pada Indonesia memudar tatkala masalah demi masalah mendera hidupku. Aku bagaikan layang-layang putus manakala ada di Indonesia.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiranku hanya satu, ‘Aku harus meninggalkan negeri ini’ untuk kebahagiaanku.

Cukup sudah aku menuruti anjuran-anjuran dan nasehat para sesepuh, teman, sahabat dan saudara untuk tetap tinggal di Indonesia.

Semua tidak bisa mengubah rasa bahagia dan cenderung menambah masalah yang ada.

Kebutuhan hidup yang semakin tinggi, bersama semakin besar usia anak semata wayangku, dan aku sangat sadar dengan keadaanku yang semakin hari semakin membuat aku merasa sangat terpuruk.

Yach semua memang berpulang karena tidak ada ekonomi yang cukup. Tidak ada pemasukan yang bisa menunjang kebutuhan hidupku.

Suami yang tidak mau mengerti, yang tidak mau memberi nafkah selain “beras” yang hanya boleh di masak…, ya hanya boleh dijadikan “nasi”.

Lalu apa arti semuanya???

Bagaimana aku bisa menjalani hidup macam ini. Kita hidup tidak sendiri, ada keluarga, ada tetangga, ada kawan, semua perlu kita eratkan tali silaturahminya.

***

Akhirnya dengan sisa kecerdasan dan keberanian juga rasa percaya diri yang masih tersisa, aku berangkat meninggalkan Indonesia dengan harapan yang besar.

Keadaan yang kian rumit membuat aku terpaksa bercerita tentang keadaanku pada Ibuku.
Ibuku yang aku tahu memang sangat menyayangi aku, tidak bisa berbuat apa.

Sebetulnya aku merasa bersalah dengan bercerita tentang keadaanku pada Ibu, karena tidak semestinya Ibu tahu hal yang bisa membuat hati beliau sedih. Tapi aku juga sudah tidak tahu dengan semua, akhirnya aku ceritakan semua sebagai alasan agar aku bisa pergi mengejar impianku yang tertinggal jauh sampai usiaku menjelang senja begini.

***

“Bagaimana, kamu suka negeri ini, dan suka kerja di sini?” tanya majikanku suatu hari.

“Sangat suka, negeri ini sangat indah, tertib, teratur, dan sangat disiplin,” jawabku dengan penuh rasa kagum.

Ya, memang sangat indah negeri bermaskot hewan SINGA yang hanya seluas kabupaten tempat tinggalku di Indonesia ini.

Mungkin karena penduduk cuma sedikit ditambah sangat bagusnya mind mereka pada aturan pemerintah, peraturan tentang pendidikan, tentang pekerjaan, tentang agama, tentang berbangsa dan bernegara, maka terciptalah suatu masyarakat atau suatu negara yang betul-betul makmur dan sejahtera.

Rakyat dan pemerintah bisa bekerja sama dengan baik. Sumber daya manusia memang penting. Ditambah program dan kepemimpinan yang sangat bagus.

Sehebat dan sebagus apapun program pemerintah untuk kemakmuran dan kesejahteraan negara, kalau rakyatnya tidak mempunyai pribadi yang berkarakter maka yang ada hanya mencerca dan berusaha menjatuhkan pemimpin.

Sebagus dan sepintar apa rakyatnya, kalau tidak mau mengikuti aturan pemerintah maka yang ada hanya merongrong pemerintah dengan menggunakan segala cara yang tidak bisa diterima akal sehat, saking pintarnya mengolah kata.

Ya, negeri ini sangat luar biasa. Semua demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Semua diperhatikan. Semua saling menghormati, saling toleransi, saling kerja sama, saling teposliro.

Penduduknya yang beraneka ragam kulit dan bahasa semakin memperindah negeri ini.

Bahasa nasional yang menggunakan bahasa Inggris semakin membuat besar bangsa ini.

Tata kota yang di-manage demikian indah dan bagus mempernyaman setiap kehidupan di dalamnya.

Semua yang ada di negeri ini sangat luar biasa. Aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada negeri ini.

Keindahan dan keramahan lingkungan dan warga sini juga sifatku yang selalu mengembangkan senyum, sudah merupakan obat sakit hati yang mujarab.

Keindahan dan keramahan negeri ini benar-benar bisa membuat aku lupa akan sakitku pada negeriku.

Keindahan negeri ini benar-benar telah membuat aku kerasan dan betah, aku ingin berlama-lama tinggal di negeri ini. Juga semua sesuai dengan sifat pengertian anakku yang tahu keadaanku ketika di Indonesia.

***

“Ayyyiiioo… Ayiiiooo… Ayyyiiioo…,” Ahma mengaduh.

“Ahma…, Ahma…, Ahma kenapa? Mana yang sakit Ahma sayang?” tanyaku pada Ahma sambil memegang tangan Ahma.

“Kaki Ahma sakit…, sakit sekali, gatal… terasa gatal di dalam kulit… ambilkan minyak itu…, urut-urutkan!” Kata ahma pelan.

“Hooohhh… hooohh … ayyiiooo…,” rintih Ahma

Ahma mempunyai keluhan dan riwayat kadar gula tinggi atau kencing manis. Juga gagal ginjal.

Karena sakit kencing manis basah yang dideritanya, maka Ahma kalau punya luka agak sulit untuk sembuh dan kering. Cenderung selalu basah dan tidak lekas sembuh. Kalau sudah infeksi maka luka itu akan dengan cepat menjalar dan meluas lebar.

Kita sebagai perawatnya, maka harus ektra dalam merawat luka itu agar betul-betul bersih dan terbebas dari benda-benda yang bisa menyebabkan infeksi.

Tiap hari kita harus memeriksa keadaan si pasien, seperti memeriksa kadar gula, melihat tinggi rendah tensi darah, melihat suhu badan, menimbang berat badan, volume air yang dikonsumsi, warna dan frekuensi BAB, warna dan frekuensi air kencing, juga makanan yang dianjurkan ahli makanan. Semua harus diperhatikan untuk kesehatan pasien.

Yang tidak kalah penting juga perawatan luka yang ada. Luka itu harus dibersihkan dengan cara dan peralatan yang sesuai petunjuk dokter juga seperti yang dokter lakukan.

Luka itu tiap hari setelah dibersihkan harus dibalut lagi agar angin atau kotoran tidak bisa menembus luka itu sehingga luka itu akan segera sembuh dan kering.

Karena gagal ginjal, Ahma harus menjalani cuci darah atau dialysis 3 kali dalam satu minggu.
Keadaan Ahma yang sudah tua membuat kondisi kesehatannya naik turun.

Manakala suhu panas badan Ahma lebih dari 37,5°C, maka pihak yang melakukan dialysis ditempat Ahma seperti biasa, tidak berani melakukan pencucian darah, dan tidak mau mengambil risiko, maka dikirimlah Ahma ke hospital untuk melakuan dialysisnya, karena hospital mempunyai peralatan yang lebih lengkap dan canggih manakala pasien dalam keadaan kritis.

***

“Nirma…, Kapan pulang?”

Selalu SMS dan pertanyaan seperti itu yang ditulis dan ditanyakan pada Nirma manakala Nirma sedang jumpa teman, sahabat juga saudara lewat udara.

Tapi Nirma tak pernah merespon semua. Dia hanya membalas dengan emoticon tertawa yang banyaaak…

Kadang dia jawab, “Emmooohhh dulu….!”

Semua sengaja dia lakukan selain untuk menekan rasa-rasa yang akan melemahkan tekadnya juga agar dia tetap merasa tenang dan happy di kehidupan dia yang baru itu.

Dia menikmati sekali kehidupannya sekarang walaupun sebetulnya orang lain belum tentu bisa kuat menjalani.

Nirma punya keyakinan inilah yang dinamakan keadilan Tuhan. Tuhan selalu memberi yang pas buat hambaNya.

Entah itu nikmat dengan segala bentuknya, seperti kesehatan, rasa bahagia, rasa tenang, rasa sabar, rasa yang paling penting yaitu rasa mempunyai Tuhan sebagai penolong satu-satunya.

Antara tekad dan trauma memang sangat membekas di hatinya. Tekadnya sudah bulat. Ingatannya hanya pada usianya yang sudah kian menyenja, semakin membuat dia tidak berfikir yang terlalu tidak dibutuhkan di usianya, seperti kangen-kangenan dan baper-baperan dengan family.

Dia sudah merasa tidak perlu yang macam itu di usia yang begini senja.

Banyaknya waktu terbuang dengan berbagai pelajaran hidup membuat dia tidak mau pusing-pusing dengan semua.

Dia songsong hari-hari dengan penuh semangat dengan memfokuskan diri, dengan menawakafkan diri, dengan menapakan diri, dengan menyendirikan diri, dengan dikembalikan semua pada Ilahi.

Segala keluhan hati hanya pada Illahi dia curahkan. Tidak pada family, tidak pada sahabat, tidak pada teman, juga tidak pada kawan. Itu yang telah membuat dia tenang dan bahagia.

Seulas senyum menyapa di senja indah.

Tamat

Singapore, 29 Maret 2018.

Edisi Revisi
Singapore, 30 November 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here