Buanglah Birahi pada Tempatnya

Penulis: Dahono Prasetyo

Perilaku penyimpangan seksual di kalangan artis sudah bukan barang baru diketahui masyarakat. Kehidupan hedonis berkumpul di satu kubangan dunia entertainment bagi yang tidak tahan godaan bisa jadi bumerang anomali.

Kasus yang menjerat Bang Ipul menjadi pukulan telak bagi kalangan selebritis beraliran LGBT. Bahwa uang dan ketenaran tidak cukup untuk membeli hukum pada pasal yang paling sensitif. Dalam bahasa hukumnya pelecahan seksual anak di bawah umur. Bagi masyarakat dianggap pelecehan, namun bagi pelaku dirasakan sebagai kenikmatan seksual. Dengan catatan kedua belah pihak mau sama mau.

Saat itu tahun 2016, korban DS yang baru dikenal Bang Ipul sebulan, termasuk ABG polos yang belum paham lika-liku penyimpangan seksual. Di mata birahi Bang Ipul, DS terasa berbeda dengan “lekong-lekong” yang selama ini pernah “dipakainya”. Bujuk rayu tidak juga membuat DS paham sedang berada di kamar predator seksual. Alhasil nafsu Bang Ipul yang geregetan pada “sosis” DS membuatnya melakukan pelecehan secara diam-diam.

Sekelas Bang Ipul seharusnya tidak sulit mencari lekong yang mau dibayar untuk pelampiasan birahinya. Namun ibaratnya dia lebih memilih DS yang dianggapnya masih “perawan”. Inilah yang memberatkan vonis tuduhan predator seksual Bang Ipul yang berpotensi melahirkan penyuka sesama jenis baru, atau rusaknya mental korban.

Tanggal 2 September 2021 menjadi hari kebebasan Bang Ipul yang dijatuhi hukuman penjara 8 tahun. Dikurangi remisi jadi tinggal 2/3 vonis menjadi 5 tahun dan bebas resmi Kamis lalu. Tetapi pada dasarnya penjara bagi pelaku pelecehan seksual mustahil membuat jera. Karena kelainan seksual sudah berbentuk karakter yang berhubungan dengan naluri birahi.

Bang Ipul yang merasa tidak bersalah atas cacat birahinya, merayakan moment kebebasannya dengan selebrasi. Jika di-ilustrasikan: “Inilah saya yang sudah bebas dari hukuman, siap kembali ke masyarakat tanpa penyesalan. Karena hasrat seksualku tidak bisa dipersalahkan”.

Kalau memang demikian, ya sudah. Bagaimana kalau kita jadikan Bang Ipul sebagai DUTA SOD*MI INDONESIA. Tugasnya mensosialisasikan cara menyalurkan penyimpangan seksual yang aman dari jeratan hukum. Sasaran kampanyenya orang-orangnya seprofesinya.

Mengapa duta sod*mi? Kan Bang Ipul cuma “menikmati sosis”? Pada prakteknya akan ke sana juga. Menurut pengakuan salah satu kawan pelaku lain, makan sosis itu pemanasannya, kalau dirasa cocok endingnya main kuda-kudaan dari belakang juga.

Tanpa harus menyebut nama, alangkah penuhnya layar TV kita dengan sosok lelaki bertangan keriting, bibir feminin dan bermata genit. Mereka yang bermain aman menyalurkan birahi kepada sesama. Langsung “beli online” atau memang setia memelihara pasangan “sosisnya”. Bukan seperti Bang Ipul yang main comot orang lewat di pinggir jalan.

Dunia hiburan kadang terasa absurd. Bagaimana seorang guru yang bekerja mencerdaskan anak bangsa dibayar murah. Sedangkan artis yang merusak generasi justru dibayar mahal.

Celakanya kitalah justru penyumbang terbesar bayarnya mahalnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here