Cina Punya Panda, Rusia Punya Beruang Siberia, dan Indonesia Punya Orangutan

Penulis: Ganda Situmorang

Salah satu hikmah Nabi Sulaiman adalah dalam kisah dua wanita berebut bayi. Kedua wanita itu melahirkan seorang anak, tetapi salah satu dari mereka secara tidak sengaja tidur dengan anaknya dan meninggal. Kini keduanya mengaku sebagai ibu dari bayi yang masih hidup. Salomo meminta pedang dan memutuskan bahwa bayi itu harus dibagi dua, dan setiap wanita akan mendapatkan setengahnya. Ibu bayi itu memohon kepada Sulaiman untuk membiarkan bayi itu hidup, meskipun ia menyerahkan bayi itu kepada wanita lain, sementara bayi itu tidak ia dapatkan. Dengan cara ini, Sulaiman berhasil menemukan ibu bayi itu.

Bu Baya, Menteri Kedua Periode Pak Jokowi

Ibu Siti Nurbaya (Ibu Baya) menjabat Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan selama dua periode pada masa Presiden Joko Widodo (Pak Jokowi). Tidak mudah untuk bisa bertahan di kabinet zaken Jokowi, apalagi selama dua periode. Ibu Sri Mulyani Indrawati dan Ibu Siti Nurabaya adalah dua pahlawan wanita yang mencapai prestasi ini.

Slogan Pak Jokowi adalah Kerja, Kerja, dan Kerja

Pak Jokowi memperhatikan detail dan hasil kinerja yang terukur berdasarkan target yang telah ditentukan. Sasarannya berupa Key Performance Indicator (KPI) dengan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi berlapis oleh staf kepresidenan. Penulis mencatat bahwa Pak Jokowi telah memiliki beberapa kesempatan dalam kegiatan bersama Ibu Baya untuk terjun ke rawa bakau untuk menanam bakau. Jangan lupa bahwa Jokowi adalah seorang rimbawan.

Dari sisi Pak Jokowi, kinerja Bu Siti Nurbaya di atas rata-rata menteri lain, bahkan mungkin menyamai Bu Sri Mulyani Indrawati di bidangnya masing-masing. Ia dipercaya memimpin Kementerian LHK periode kedua hari ini.

Masyarakat internasional juga mengakui pencapaian kinerja Indonesia terkait Lingkungan, Agenda Perubahan Iklim, dan Kehutanan.

Sekelompok Ilmuwan “Ibu Palsu” Dengan Kepentingan Tertanam

Namun belakangan, sekelompok ilmuwan terkemuka di bidang konservasi orangutan secara terang-terangan mengkritik publikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terkait populasi orangutan. Klaim masing-masing pihak juga berbenturan karena LHK menyatakan peningkatan populasi orangutan mengatakan sebaliknya. Publik bertanya-tanya tentang arah dan tujuan kritik keras kelompok ilmuwan ini.

Penulis tidak bermaksud mencampuri urusan teknis data dan metodologi. Tetapi dua hal perlu dikatakan menurut ilustrasi di awal Kebijaksanaan Salomo.

Orangutan adalah Aset Berharga Indonesia

Jika China punya panda, Rusia punya beruang Siberia, dan Indonesia punya orangutan. Tak perlu berdebat tentang siapa yang memiliki kasih sayang dan cinta untuk orangutan. Apakah pemerintah Indonesia atau sekelompok ilmuwan? Sejauh ini, jelas bahwa sampai langit runtuh, pemerintah Indonesia tidak akan pernah berniat memusnahkan orangutan.

Ibu kandung mengetahui, menginginkan, dan melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Jadi tidak perlu ibu-ibu tetangga, apalagi ibu-ibu palsu, mendikte ibu kandung. Apalagi mengkritisi bahwa anak demam adalah kondisi mati rasa saat ibu menggendong anak yang tertidur lelap dalam gendongannya. Itu lucu!

Kepentingan Tertutup membonceng Ilmuwan dan Sains

Apakah penulis bertanya-tanya apa motivasi dan kepentingan di balik kritik keras terhadap ‘ibu palsu’ tetapi masyarakat internasional mengakui asuhan ibu kandung, lalu kepada siapa ibu palsu ini berorientasi? Diduga pihak-pihak di balik layar dengan agenda kepentingan yang tertanam. Ibu palsu tidak mewakili komunitas internasional. Mereka berpura-pura peduli dengan aset orangutan Indonesia.

Daftar Hitam Ilmuwan yang Berlaku Global

Dari uraian singkat di atas, penulis sampai pada kesimpulan subjektifnya bahwa sanksi yang diberikan Ibu Baya kepada lima ilmuwan terkemuka di bidang konservasi orangutan adalah yang paling ringan. Perlu dibuat instrumen pencegahan dan mitigasi untuk mencegah klaim dan kritik serupa oleh ibu-ibu palsu lainnya di belahan dunia lain. Jangan sampai hal yang sama terulang kembali, misalnya kritik tak berdasar terhadap pemerintah China terhadap Panda. Atau kritik tak berdasar terhadap pemerintah Rusia tentang beruang Siberia?

Sehingga perlu dibuat Blacklist “ibu-ibu palsu.” Komunitas ilmiah global berisi puluhan ribu ilmuwan yang masih bersih dan bebas dari kepentingan pribadi.

Penulis menyampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa Ibu Baya dengan senang hati memulai inisiatif Blacklist para ilmuwan.

Ganda Situmorang
21 Oktober 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here