Cinta Matiku

Penulis: Lunna Se

Aku mencintainya melebihi diriku sendiri…
Aku mencintainya seperti orang gila….

***

Jarum jam tepat diangka delapan ketika kami, maksudku aku dan suamiku, duduk di ruang makan. Aku membuat sesuatu yang istimewa. Makanan kesukaannya. Steak ikan salmon.

Aku memotongnya dan menyuapinya. Seperti anak kecil, dia menerima suapan demi suapan dari tanganku.

“Aku mencintaimu seperti orang gila,” kataku.

Dia tersenyum. Aku selalu jatuh cinta dengan senyum itu. Senyum miliknya yang seharusnya hanya untukku.

Ponsel di sebelah piringnya bergetar. Aku menatap layarnya sejenak dan beralih ke matanya. Aku tersenyum dan mengangguk. Memberi dia ijin untuk pergi dan mengangkat telepon. Suamiku beranjak dari ruang makan. Dan aku menghabiskan makanan sendirian.

Dia adalah orang yang membuatku jatuh cinta berkali-kali meski telah lima tahun kami menikah. Dia seseorang yang istimewa dan memberi warna dalam hidupku. Dia…, segalanya untukku.

Dan nama itu. Nama yang selalu muncul di layar ponselnya, adalah nama yang sudah aku lihat selama dua tahun belakangan. Rekan bisnis katanya. Aku tak ingin tau. Aku tak mau tau. Aku sungguh-sungguh tak mau tau!

Pada akhirnya, kepercayaanku padanya adalah sang pemenang. Bukan. Bukan kepercayaan. Tapi cinta.

Aku sudah berada di ruang TV ketika dia muncul lagi.

“Kamu sibuk?” tanyaku.

“Sekarang enggak. Aku temani kamu nonton.”

Dia menghempaskan diri di sebelahku. Merangkulku. Mengecup bibirku. Aku menyandarkan diri di dada bidangnya, berbantal lengan kekarnya.

“Siapa tadi?” aku basa basi.

“Rekan bisnis.”

“Perempuan?” aku pura-pura curiga.

“He eh.”

Ia memandangku.

“Kamu cemburu?” aku menggeleng.

“Aku mempercayaimu, selalu,” kataku.

***

Aku mendengar suamiku menyapanya dengan kata “dear”.
Aku mendengar suamiku menyapanya dengan kata “sayang”.
Aku mendengar semua kalimat yang meluncur dari bibirnya pagi ini. Ketika aku terbangun dari tidur. Aku tak ingin mengganggunya. Aku tak ingin membuatnya kaget. Aku tak ingin dia tau, bahwa aku mendengarnya. Sehingga aku terus saja berpura-pura terlelap. Ini bukan kali pertama.

“Jangan marah sayang, dengannya aku hanya berpura-pura. Cintaku hanya milikmu. Selamanya.”

Itu salah satu kalimat yang meluncur dari bibir suamiku. Orang yang aku cintai dengan gila.

“Pagi ini aku akan datang, sayang. Secepatnya. Aku naik pesawat pagi. Tunggu aku.”

Suamiku mengakhiri percakapan dengan kalimat tersebut.

Aku masi pura-pura terlelap, hingga dia bangkit menuju kamar mandi.

Apakah sakit? Rasanya aku telah belajar menahannya. Aku belajar membuat hatiku kebal. Tapi air mataku mengalir deras di bawah bantal. Aku bersembunyi. Aku tak ingin dia melihat. Aku tak ingin dia tau bahwa aku mendengar segalanya.

***

“Sayang, sudah bangun?”

Sapanya ketika aku menyiapkan sarapan untuknya. Ia keluar dengan menyeret satu koper di lengan kanannya. Aku tak mau tau ke mana ia akan pergi.

Aku tersenyum ke arahnya.

“Bawa koper besar. Mau ke luar kota, kan?” aku basa basi. Karena sesungguhnya aku sudah tau ke mana dia akan pergi.

“Iya. Ada pekerjaan mendadak,” sautnya.

“Makan dulu Cinta, perut kamu harus kamu isi. Kamu ada maag,” kataku.

Aku tau dia tak ingin memakannya. Aku tau dia terburu-buru. Aku tau seseorang di sana menunggunya. Aku tau dia ingin segera menemuinya.

“Satu gigit saja. Sisanya untukku,” aku memaksa. Dan dia menurut.

Aku perih. Aku menunduk. Mataku panas. Tapi aku harus mengangkat mukaku dan memberikan senyum terbaikku untuknya.

“Jaga diri baik-baik. Pulanglah dengan selamat. Aku menunggumu di sini. Aku mencintaimu,” kataku.

Ia mengangguk. Memelukku. Dan pergi.

Aku duduk di ruang makan. Aku bertanya-tanya pada diriku.

Kesalahan macam apa yang telah aku perbuat sehingga ia tak lagi mencintaiku?
Kesalahan seperti apa yang aku telah lakukan untuknya sehingga ia berpaling dariku?

Sejujurnya. Aku tak ingin tau dan tak mau tau dengan apa yang dia lakukan. Aku memilih membohongi diri sendiri. Aku memilih tak percaya dengan apa yang telah aku dengar dua tahun belakangan.

Aku memilih mencintainya. Aku memilih untuk tetap bersamanya.

***

Senin malam dia kembali. Ia masih selalu menawarkan keromantisan dan sikap mesranya padaku. Aku masih jatuh cinta padanya. Cintaku tak pernah lekang untuknya.

Bagiku, bahkan tak apa-apa, meski aku tau dia mengkhianatiku.
Bagiku, bahkan tak apa-apa, meski hatiku terhiris.
Bagiku, bahkan tak apa-apa, meski aku harus berpura-pura tak tau perselingkuhanya.
Bagiku, bahkan tak apa-apa, meski harus menyembunyikan air mata.

Tadi siang dia bilang ingin makan rendang buatanku. Aku sudah menyiapakannya. Malam ini kami makan bersama. Sesekali ia menyuapiku. Kami selalu pandai menunjukan yang terbaik. Kami selalu pintar menyimpan hal-hal yang menyakitkan satu sama lain.

Kami hidup seperti ini selama dua tahun….
Palsu….
Tapi bagiku, tak apa-apa selagi bersamanya….

“Sayang…, ada yang ingin aku bicarakan,” katanya ketika kami sama-sama di ruang TV.

Aku tak ingin mendengar apapun!
Aku tak ingin tau tentang apapun yang akan dia bicarakan!
Apapun!
Jangan pernah katakan!
Jangan pernah bicarakan!

Hatiku menjerit-jerit.

Aku tersenyum kepadanya. Aku bangkit dari dudukku.

“Aku ngantuk Cinta, aku mau tidur,” aku beralasan.

Dan aku pergi ke kamar. Aku menutupi tubuhku dengan selimut rapat-rapat. Aku tak ingin mendengar apapun dari mulutnya. Aku tau apa yang akan dia katakan.

Aku tau….
Aku sudah melihatnya. Aku sudah melihat ia membeli dua cincin. Aku sudah melihat cincin itu ada di laci meja kerjanya.

***

1 Desember….

Ulang tahun pernikahan kami yang ke-enam. Aku mengajaknya untuk merayakan secara sederhana. Kami makan malam di sebuah restoran mewah kawasan Jakarta Pusat. Ia menggandengku seturun dari mobil. Ia selalu tersenyum kepadaku. Meski aku tau, ia hanya pura-pura.

Lagi-lagi bagiku tak apa….

Pesanan kami sudah terhidang. Aku memotong steak istimewa di hadapanku. Tapi dia mencegahnya. Ia mengambil piringku. Memotong-motong isinya dan menyuapku. Ia menyuapiku sampai habis. Bahkan dia sendiri belum sempat memakannya. Steak yang sangat lezat. Aku menutupnya dengan segelas wine di hadapanku.

Aku tersenyum. Mewakili rasa terima kasihku untuknya.

“Sayang, ada yang harus aku katakan,” hati-hati ia bersuara.

Aku tersenyum lagi kepadanya.

“Maafkan aku. Selama ini aku…,” Ia mulai bicara.

“Jangan katakan apapun!” aku menyela.

“Jangan katakan apapun. Aku tak ingin tau,” sambungku.

Ia menatapku. Lekat.

“Kamu sudah tau. Kamu sudah tau bahwa selama ini aku membohongimu,” Ia berkata-kata lagi.

“Aku memiliki orang lain. Aku mencintai orang lain…,” Ia meneruskan.

Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku sungguh-sungguh tak ingin mendengar!

“Kita akhiri pernikahan kita. Dan kita cerai,” tapi aku masih mendengar kata-katanya.

Ia ingin cerai.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan? Aku tak mau berpisah darinya. Aku tak mau berpisah dengannya.

Aku membuka telingaku.

“Tak kan ada perceraian,” kataku.

“Tak akan ada perpisahan,” sambungku.

“Pergilah ke manapun hati membawamu. Pergilah bersama orang yang kamu cintai. Kita tak akan berpisah. Kita tak akan bercerai,” kataku.

“Pulanglah seminggu sekali. Tidak-tidak. Sebulan sekali sudah cukup. Bisa kan?”
aku memohon.

“Hanya menemani aku makan malam. Tiap akhir bulan. Aku akan memasak makanan kesukaanmu. Aku tetap mencintaimu. Bahkan hingga detik ini. Dan mungkin sampai kematianku nanti,” sambungku.

“Kamu mau pergi malam ini kan? Aku akan bantu kamu membereskan barang-barangmu. Bajumu. Semuanya. Kamu orang yang teledor. Tidak teliti. Aku khawatir akan banyak hal penting yang tertinggal.”

Aku masih saja berkata-kata di saat dia terdiam seribu bahasa. Aku tak memberinya kesempatan.

“Aku cari angin dulu di luar. Tunggu aku di rumah. Aku akan kembali dengan cepat. Tolong tunggu aku sebentar,” aku mengakhirinya.

Aku melangkahkan kaki ke luar restoran. Aku menjauh darinya. Aku tak ingin dia melihatku menangis. Lihat kan? Tadi aku tak menangis.

Hanya sekarang. Biarlah aku menangis. Menangis yang benar-benar menangis. Angin malam berhembus menemani langkahku. Aku kini sendirian. Aku benar-benar sendiri. Aku menangisi cintaku. Aku menangisi cinta matiku.

Pergilah sayangku…
Pergilah ke mana hati membawamu…
Pergilah cari kebahagiaanmu…
Dan pulanglah jika masih butuh aku…
Kembalilah dengan selamat…
Kembalilah jika kamu rindu makanan kegemaranmu. Kembalilah…
Aku akan selalu menunggumu….

***

Setengah jam aku jalan-jalan sendirian. Sudah saatnya aku pulang. Aku memutar badanku ke arah jalan pulang. Terlalu jauh bila harus jalan kaki. Aku harus mencari taxi.

Di sepanjang jalan, tak ada taxi yang mau berhenti. Lihat. Bahkan taxi-pun tak sudi aku tumpangi.

Aku melangkahkan kaki ke arah restoran. Siapa tau dia masih di sana. Kami bisa pulang bersama.

Di pinggir jalan. Aku melihat sekelompok orang sedang berkerumun. Sepertinya telah terjadi kecelakaan. Ada mobil polisi yang baru saja datang. Aku mendekat.

Aku menyeruak kerumunan. Aku penasaran dengan apa yang telah terjadi. Aku melihat seseorang sedang menangis di depan perempuan yang tergeletak di jalanan.

Orang yang menangis itu. Orang yang memeluk seorang perempuan yang berdarah-darah itu. Itu dia. Suamiku. Dan perempuan di depannya. Perempuan yang terbaring tak berdaya itu. Itu aku.

Itu aku.
Itu ragaku.
Aku mati.
Aku telah mati.
Aku sudah mati!

Aku mencintaimu…
Bahkan sekarang ketika aku sudah mati…
Pergilah sayangku…
Berbahagiala bersama orang yang kamu cintai…
Ikutilah kata hatimu…
Pergilah…
Aku menunggumu di kehidupan mendatang…
Aku menunggumu, sayangku….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here