Diselingkuhi, Saya Pernah Merasakan

SintesaNews.com – Perselingkuhan dari zaman ke zaman memang telah lumrah terjadi dan dialami oleh salah satu pasangan, baik yang telah menikah ataupun belum.

Perasaan sakit karena merasa dicurangi, rendah diri, menyalahkan diri sendiri, bahkan banyak pula yang kemudian merasa depresi karena diselingkuhi kerap dialami oleh kita yang diselingkuhi, baik perempuan maupun laki-laki.

Vin, 34 tahun, seorang ibu rumah tangga, yang memiliki satu anak laki-laki berusia 8 tahun, menceritakan bagaimana ia pernah mengalami sebuah perselingkuhan oleh suaminya.

“Awalnya saya tidak sadar, ketika suami pulang malam, mengaku lembur, saya baik-baik saja menerima dan mempercayainya. Sadarnya ketika suami saya tertinggal ponselnya di rumah, dan ada pesan WA masuk, saya membukanya, ngga taunya, itu pesan dari teman kantornya, perempuan yang isinya lumayan mesra…”

Sakit, sudah pasti, namun Vin mencoba mengendalikan diri.

“Sedih, sangat. Waktu suami pulang, saya tanya, dia memang langsung mengaku, dan saat itu dia minta maaf, sujud di kaki saya, dan janji tidak akan mengulangi. Akhirnya saya maafkan, karena saya juga mikirin anak saya. Tapi sebulan kemudian saya menemukan lagi WA dari perempuan yang sama. Sejak itu saya diam-diam saja membaca, password HP suami saya gobloknya pakai password yang mudah ditebak, jadi kalau dia tidur, saya diam-diam membaca, sampai suatu hari ketemu WA mereka janjian untuk jalan ke suatu tempat. Jadi saya putuskan hari itu untuk mengikuti dia dari tempat kerjaanya.”

Dan Vin melakukan pengintaiannya.

“Ya sudah, saya hanya ingin membuktikan, pakai mata kepala saya sendiri, bahwa suami saya memang mengkhianati saya. Dia pikir saya bodoh, saya sih tidak masalah dia tinggalin, saya hanya mau membuktikan sumpahnya saat dia sujud di kaki saya. Saya datang mengikuti bukan untuk melabrak si perempuannya¬† bukan juga untuk merekamnya, menjambaknya, atau membuat kegaduhan untuk diviralkan, masih punya harga diri saya, buat apa rebutan laki-laki, kalau memang suami saya sudah nggak cinta sama saya, ya saya cuma mau diselesaikan saja. Saya hidup dari kerja keras saya sendiri kok. Saya cari uang sendiri. Saya tidak minta uang dari dia. Dikasih syukur, tidak juga ngga masalah. Intinya kalau saya pisah atau dicerai, bukan masalah besar buat saya. Saya sudah mandiri sejak masih belum menikah. Saya cuma mau kejelasan saja, mau bagaimana dia. Akhirnya saya pergoki mereka sedang duduk di tepi pantai Ancol. Tidak marah saya, saat itu saya cuma bilang begini di belakang mereka duduk: Terusin ajaaa… Tapi ceraikan dulu saya…”

Vin berapi-api mencurahkan hatinya.

“Apakah akhirnya saya diceraikan? Oh, Tidak. Dia tidak mau menceraikan saya, meski saya sudah kekeuh mengajak bercerai. Padahal sejujurnya saya tidak masalah tanpanya. Untuk ke dua kalinya dia bersumpah tidak akan lagi melakukan hal bodoh dan pengkhianatan untuk saya. Apakah saya memaafkan, ya, saya memaafkan. Apakah saya mempercayainya lagi? Entah. Sampai sekarang saya hanya membiarkannya. Terserahlah dia mau melakukan apapun, dan akhirnya saya juga terserah saya melakukan apapun. Saya membebaskan dia, tapi dengan memberinya kebebasan dan membiarkannya, justru saya jadi tidak ada beban. Sayapun tak mau melihat lagi isi HP dia. Hidup saya rasanya lebih ringan, mengalir. Malah dia yang sepertinya aneh melihat saya dan takut saya tinggalkan. Sejak saat itu dia pulang selalu tepat waktu, padahal saya tak peduli lagi dengan jam kerjanya dia, atau dia mau jalan lagi sama perempuan itu. Perasaan saya ke dia sudah datar dan hambar saja rasanya. Yang saya lakukan hanyalah menjaga perasaan anak saya, supaya anak saya tetap memiliki orang tua lengkap. Apakah keputusan saya salah atau betul, yang pasti, saya hanya ikuti hati saya. Saya merasa nyaman, anak saya senang, dan suami saya mungkin tidak tertekan.

Saya bahkan pernah bilang ke dia, kalau mau pergi kapanpun waktunya, silahkan. Yang penting hubungan dalam mengurus anak, tetap baik-baik saja.

Tapi dia berkata, hanya dengan saya hidupnya nyaman. Pernah menawarkan saya untuk mengecek HPnya untuk kembali menumbuhkan rasa percaya saya, tapi saya menolak, lakukan apapun yang membuatmu nyaman, jangan anggap saya seperti hakimmu, itu saya katakan.”

Vin pada akhirnya tetap memutuskan bersama sang suami hingga sekarang. Dia sendiri berkata bahwa, jika suaminya mengkhianatinya lagi, ia sudah kebal, karena cintanya sendiri sudah hambar, bukan masalah besar ditinggalkan, karena prioritas utamanya saat ini hanyalah anak semata wayangnya.

Vin berhasil menciptakan mekanisme untuk terhindar dari rasa sakit hati berlarut, rendah diri, menyalahkan diri sendiri dan depresi. Ia membangun sendiri bentengnya. Pengkhianatan pada akhirnya dia anggap hanyalah angin lalu semata. Ketika ia telah mampu mengatur dan mengendalikan perasaanya.

“Diselingkuhi? Sakit sih awalnya, tapi itu justru membuat saya semakin kuat, karena dari situ saya justru mampu menciptakan kebahagiaan saya sendiri, dan ternyata kebahagiaan saya bukan bergantung pada suami saya, tapi dari diri saya sendiri.. Saya menikmati hidup saya saat ini…” Vin mengakhiri curhatnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here