Gus Wal: Negara Butuh Kritik Beradab dan Konstruktif, Bukan Kritik Barbar, Hoax, Fitnah dan Ujaran Kebencian

Penulis: AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), Ketum GBN

Beberapa nulan lalu dalam kegiatan Ngaji Pancasila, Istighotsah dan Doa untuk Bangsa yang dilangsungkan di Pacitan, kami mengusulkan agar dibangun kritik konstruktif yang beradab dari masyarakat luas, para pemuka dan tokoh agama untuk bersama sama ikut membangun dan memajukan bangsa.

Usulan “membangun Kritik Konstruktif dan Beradab” itu beberapa bulan lalu kita suarakan, melihat semakin banyaknya fitnah, hoax dan ujaran kebencian yang semakin menjadi-jadi di negeri ini.

Bencana besar adalah ketika anak-anak, remaja, dan generasi muda nan generasi terdidik ikut arus propoganda hoax, fitnah dan ujaran kebencian tanpa dasar dan data ilmiah yang jelas.
Lebih parah lagi, jika semata-mata melontarkan “kritik asbun”, hanya Ingin menjadi terkenal maupun ingin masuk ranah politik atau menjadi buzzer.

Kita tentu sudah bosan dengan propoganda hoax, fitnah dan ujaran kebencian yang tak pernah surut selama bertahun-tahun terakhir ini. Kita bisa flash back bagaimana banyak kritik ataupun suara sumbang tanpa dasar dan fakta ilmiah yang jelas dan tanpa bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya yang selama ini sangat rajin disuarakan oleh Rocky Gerung, Neno Warisman, Haikal Hasan, UAS, Khalid Basalamah, Sugik Nur Raharja, Novel Bamukmin, Yusuf Martak dll.

Namun mengapa yang selama ini bersuara sumbang tanpa kebenaran dan tanpa dasar fakta ilmiah masih dibiarkan bebas sebebas-bebasya untuk terus membuat gaduh dan merusak ketentraman kehidupan berbangsa, bernegara bermasyarakat di negeri ini???

Andai mereka sejak dahulu cepat ditindak tegas, mungkin tak sampai ada “Kritik Dagelan” dari
Leon Alvinda Putra yang membuat gambar yang menyebutkan “Jokowi The King Of Lip Service”.

Apakah yang dilakukan Leon Alvinda Putra adalah merupakan sebuah kritik?

Hey Bung…! Yang kamu suarakan bukan kritik, tapi sebagai upaya untuk mengajak masyarakat agar mempercayai “halusinasimu” agar rakyat ikut membenci presidenya sama sepertimu. Di lampusmu yang menjadi di nomor Wahid ini banyak cara yang bisa kau gunakan untuk “membuat kritik dan masukan” untuk bersama-sama ikut membangun bangsa.

Apa yang dilakukan oleh Leon Alvinda Putra lewat halusinasinya pun sontak mendapat reaksi keras dari masyarakat di negeri ini yang masih waras.

Apakah sudah berganti arti dan tujuan kritik dari yang sifatnya memberi masukan baik dengan halus, sedang maupun keras kini berganti sebagai ajang menyebarkan hoax, fitnah dan penghinaan?
Apakah Kritik harus dengan mencaci dan menghina?
Tidak! Itu tak perlu dilakukan.

Kritik tak boleh dijadikan tameng untuk menyebarkan propoganda yang memancing chaos maupun kegaduhan publik. Kritik juga tak bisa dijadikan alat sebagai dalih untuk menyebarkan hoax, fitnah dan ujaran kebencian.

Pihak kepolisian semestinya juga menyelidiki “dugaan kasus penghinaan kepada kepala negara dan menyebarkan propoganda yang berupa ajakan untuk berbuat makar” dari apa yang telah dilakukan oleh Leon Alvinda Putra.

Aparat penegak hukum harus lebih berani dan tegas dalam menindak suara, ajakan dan tulisan yang dapat merongrong marwah seorang kepala negara.

Kalau aparat penegak hukum abai dan membiarkan hal tersebut, terlihat semakin banyak yang semakin liar dan semakin banyak narasi sumbang kepada negara, yang mirisnya kembali dilakukan oleh generasi terdidik di negeri ini.

Mungkinkah Leon Alvinda Putra bersama dengan yang lainya seperti Rocky Gerung, Haikal Hasan, Neno Warisman, UAS, Khalid Basalamah, Novel Bamukmin diusulkan jadi :Pahlawan Nyinyir Nasional” atau Pahlawan Propoganda Nasional, atau Pahlawan Tebar Kebancian, Hoax, Fitnah Nasional?

Kalau memang ingin menyandang gelar pahlawan dahulu seperti di atas baru bisa berfikir rasional dan lurus, maka Rakyat Indonesia siap mengusulkan kepada kementrian terkait untuk segera membentuk Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) yang khusus bertujuan untuk mengangkat mereka menjadi icon ataupun “Pahlawan Nasional” bidang nyinyir, tebar propoganda, hoax, fitnah dan ujaran kebencian.

Selayaknya kita membangun dan membiasakan krtik konstruktif dan berbudaya untuk turut serta dalam membangun memajukan bangsa Indonesia tercinta, yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Bersatu Lawan Ujaran Kebencian, Hoax & Fitnah.

Jaga Bangsa, Bela Negara, Lestarikan Pancasila, Merawat Tradisi Budaya Nusantara.
Dukung & Sukseskan Program Vaksinasi Covid 19, patuhi protokol kesehatan.

Gerakan Jaga Kampung Desa dari Corona dan Bahaya Laten intoleransi radikalisme terorisme komunisme hti.

GARDA BENTENG NUSANTARA
Bersatu berjuang bergerak berkhidmat bermanfaat untuk negeri.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here