HTI Meracuni PTN

SintesaNews.com – Sebuah utas di Twitter yang dicuitkan oleh akun @Bengkeltanah1 minggu lalu memposting kisahnya mengenai anaknya yang berkuliah di sebuah PTN (Perguruan Tinggi Negeri) sempat terpapar dengan anasir-anasir khilafah dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang kini merupakan organisasi terlarang di NKRI. Simak kisahnya.

Sebagai orang tua, saya sangat bangga ketika anak saya perempuan diterima di sebuah PTN ternama di Surabaya pada tahun 2015. Karena dia perempuan maka setiap berangkat kuliah saya antar-jemput sendiri setiap hari. Pada masa awal kuliah semua berjalan baik-baik saja.

Memasuki bulan ke-3 masa kuliah, anak saya mohon ijin untuk ikut kelompok pengajian di kampus katanya. Saya berpikiran positif saja, maka saya ijinkan tapi dengan syarat ketua kelompok pengajian harus ketemu saya di rumah. Selang beberapa hari datanglah seorang perempuan berjilbab ke rumah.

Kedatangannya unuk minta ijin mau mengajak anak saya untuk aktif di kelompok pengajian yang dia adakan. Akhirnya saya ijinkan anak saya unuk ikut kelompok pengajian tersebut. Dalam seminggu kelompok pengajian berkumpul 1-2 kali di masjid kampus anak saya, setelah 1 minggu aktif.

Di kelompok pengajian tersebut mulai ada yang aneh dalam pribadi anak saya, dia sangat tekun sholat 5 waktu dan sering berjilbab meski di dalam rumah, perilakunya juga sudah mulai berubah dan sering mengkritisi ibadah orang tua dan saudaranya, tapi tetap saya biarkan dan ikuti terus apa maunya.

Kemudian tempat kelompok pengajian mulai berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan jumlah peserta 5-10 mahasiswi, tetap saya ikuti dengan sabar. Masuk minggu ke-2 kepribadian anak saya mulai berubah karena lebih fokus ke pengajian daripada kuliah, saya masih sabar dan ikuti.

Minggu ke-3 kelompok pengajian yang diikuti anak saya mulai diisi dengan ceramah agama, dan ada penceramahnya. Sekilas saya melihat si penceramah bukanlah mahasiswi semester 1, karena penampilannya agak beda dengan yang lain. Karena saya menunggu di luar samar-samar terdengar materi ceramahnya.

Tidak hanya masalah agama saja tapi sudah membicarakan tentang kemayarakatan dan pemerintahan. Di sini saya mulai tidak nyaman, tapimsaya mencoba bijak dan terdiam. Dalam hati saya mengatakan kelompok pengajian ini tidak baik. Sebagai ortu saya tetap berkewajiban membimbing anak saya.

Setelah sampai di rumah mulai saya bicara dari hati ke hati dengan anak saya tentang pengajian yang dia ikuti. Semua hal yang baik sesuai agama saya terima dengan bijak, saya kaget ketika anak saya mulai bicara khilafah, sebagai ortu saya harus tetap sabar. Pembicaraan akhirnya saya alihkan.

Ke arah pendidikan, saya katakan dengan lembut kepada anak saya, “Kamu pilih belajar ilmu umum sesuai keinginan dan cita-citamu atau kamu mau belajar ilmu agama?” Sambil tetap tenang saya sampaikan bahwa ortu banting tulang buat biaya kamu kuliah agar kamu sukses. Lama anak saya terdiam.

Akhirnya sambil menangis dia menyatakan saya tetap ingin belajar ilmu umum sampe lulus nanti. Dari sini saya baru punya keberanian masuk lebih dalam bertanya kepada anak saya tentang kelompok pengajian tsb. Ternyata kelompok pengajian tersebut dimentori oleh orang HTI. Dan selalu bergerak.

Dari satu kampus ke kampus lainnya, melalui kelompok-kelompok kecil 5-10 orang. Mereka yang sudah fasih pemahamannya akan bertemu kelompok lain yang levelnya lebih tinggi. Dan akhirnya akan dilibatkan dalam suatu kelompok pengajian umum dalam suatu acara dan tempat yang mereka tentukan.

Pembicara dalam ceramah umum menghadirkan orang-orang senior di HTI. Di sinilah racun mulai ditebar kepada kelompok-kelompok pengajian yang telah direkrut sebagai kader muda dari kaum intelektual. Tepat pada akhir minggu ke-4 saya minta kepada anak saya untuk bertemu dengan temannya perempuan yang pernah datang ke rumah bulan lalu, anak saya bersedia.

Besoknya saya temui perempuan itu di sebuah masjid di dalam kampus dan saya ajak dialog dari hati ke hati tentang anak saya dan kelompok pengajian tsb. Dia saya giring agar mempertemukan saya dengan pimpinan di atas nya, alhamdulillah bersedia.

Singkat cerita saya bertemu pimpinan atau senior dia di sebuah tempat. Terjadilah perdebatan antara saya dengan mereka 3 orang, mereka menyerang saya dari sisi agama tetapi saya dengarkan saja, intinya mereka mengatakan “Kami mengajar anak bapak tentang ajaran khilafah.”

Di sini saya mulai geram, saya berdiri dan tatap mata mereka satu per satu, saya hormati kelompok pengajian ini, tapi tolong hormati hak saya sebagai ortu untuk mendidik anak saya dengan ilmu pengetahuan umum bukan dengan ilmu agama, karena anak saya kuliah di Pergurun Tinggi Negeri.

Mereka tetap ceramah agama di depan saya tentang khilafah tapi tidak saya hiraukan. Lalu saya mencoba tenang, saya tanya satu per satu apakah mereka belajar di kampus yang sama dengan anak saya. Saya semakin emosi ketika ada salah satu yang menyatakan dia dari kampus yang berbeda. Di sinilah saya emosi.

Saya maki-maki semuanya. “Kalian mahasiswa bajingan semua berani meracuni anak saya dengan doktrin ajaran sesat. Ayo tunjukkan kepada saya siapa pemimpinmu di sini?!”

Akhirnya ada seorang pemuda mungkin seniornya mencoba meredakan emosi saya, dia mengatakan , “Silakan anak Bapak tidak ikut kelompok pengajian ini.”

Akhirnya mereka minta maaf kepada saya dan anak saya. Setelah kejadian itu kelompok pengajian di lampus anak saya tidak ada kegiatan. Tapi tetap saya pantau anak saya agar tidak didekati oleh kelompok mereka.

Sejak itu saya berpikiran bahwa masih banyak kampus PTN lain di seluruh Indonesia yang disusupi oleh orang-orang HTI. Pengkaderan ini sangat berbahaya karena merekrut anak-anak mahasiswa PTN yang memiliki kecerdasan intelektual di atas rata. Alhamdulillah setelah tahun lalu lulus anak saya sudah bekerja sesuai cita-citanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here