Kemenangan Anies Baswedan Pilkada DKI 2017 Kelalaian Kolektif Bangsa, Jangan Terulang Lagi!

Baliho Anies sampai ke Papua Barat.

Penulis: Ganda Situmorang

“Keledai saja tak jatuh di lubang yang sama sampai dua kali”.
Maksudnya, sebodoh-bodohnya orang, ia tak akan mengulang kesalahan sebelumnya.

Praktik politik brutal yang memainkan cara-cara transaksi identitas pada Pilkada tahun 2019 silam dimana pasangan Anies – Sandi keluar sebagai “pemenang” harus dicatat dalam satu lembaran bab khusus perjalanan sejarah demokrasi di Indonesia. Catatan kelam yang harus disegel sebagai pembelajaran bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Selama masa Anies Baswedan menjabat Gubernur DKI Jakarta praktis tata kelola DKI Jakarta mengalami kemunduran. APBD terus menurun. Tirai balaikota yang kembali ditutup rapat-rapat, sudah lebih dari cukup menggambarkan betapa tata kelola pemerintahan di bawah Anies mundur hingga ke era jahiliyah. Semua serba tertutup, salah ketik, lebih bayar, bongkar pasang proyek hingga anggaran koleksi piala penghargaan abal-abal buat pencitraan.

Peran Partai Politik

Di atas semuanya, peran Partai Politik menjadi penentu. Bagi penulis, aktor politik siapapun dia, setia dan tegak lurus kepada konstitusi NKRI adalah harga mati. Tidak ada tawar menawar dengan memberi ruang toleransi bagi siapapun yang masih mempertanyakan Pancasila misalnya.

Sederhana saja. Barang siapa Partai Politik yang masih bermain mata dengan ideologi asing tidak mendapat tempat di NKRI. Maka sudah sewajarnya bagi Partai Politik yang ada sebenarnya harus mencoret nama Anies Baswedan dari daftar calon Presiden 2024.

Kinerja Anies yang benaran buruk sebenarnya bukan alasan utama kenapa rakyat Indonesia harus super hati-hati. Melainkan rekam jejak menghalalkan segala cara dengan melakukan transaksi politik identitas dengan kelompok yang terang benderang ingin mengubah Pancasila dan menegakkan Khilafah adalah sirene darurat bagi yang masih ingin melihat keberadaan NKRI.

Anies Baswedan itu sudah kartu mati. Syarat pertama setia dan taat kepada konstitusi NKRI dan Pancasila sudah tidak terpenuhi.

Maka Partai Politik hendaknya dalam menetapkan calon Presiden tidak memakai kaca mata kuda dengan memakai popularitas kandidat semata. Di sini diperlukan sikap negarawan dengan visi Indonesia 2050 yang jauh ke depan. Syarat pertama dan utama calon pemimpin bangsa adalah setia dan taat kepada Pancasila dan UUD 1945!

Partai Politik yang masih nekat melirik bahkan sampai meminang Anies sebagai calon Presiden tahun 2024 sama saja dengan melakukan tindakan bunuh diri politik.

Bangsa Indonesia bukan bangsa keledai.

Teluk Balikpapan
7 Mei 2022

1 COMMENT

  1. Bukan mereka tidak tahu… Justru karena sepak terjang Anies yang melindungi dan mewadahi Tikus Korupsi, maka dia banyak dipinang oleh partai. Harusnya dari sini jelas sudah Partai mana yang selama pemerintahan Jokowi ‘lumbung’ nya kosong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here