Kerja Intelijen di Balik Azdan dengan Jihad

Penulis: Erri Subhakti

Suatu kali Presiden Gus Dur pernah mengungkapkan, “Tidak ada satu ormas Islam pun di Indonesia yang tidak ada intelnya.”

Artinya setiap ormas Islam di Indonesia hampir pasti di dalamnya ada intelijennya. Hal ini sudah tidak asing lagi dengan kerja intelijen sejak jaman orde baru.

Bahkan ada ormas Islam yang sengaja dibentuk, dibesarkan, untuk digunakan jika aparat memerlukan bantuan tenaga sipil dalam situasi tententu.

Yang paling apes adalah ormas Islam yang akhirnya digebuk mati jika pemerintah orde baru memerlukan kambing hitam, atau untuk menciptakan citra buruk kepada ormas Islam tertentu.

Maka biar bagaimana pun ekstrimnya FPI berkoar-koar, di dalamnya ada intelijennya. Dan agen intelijen ini bukan “anak bawang” di sini. Ya bisa jadi justeru bersikap sangat membela FPI dan selalu membela dedengkotnya, Rizieq Shihab. Dan tentu saja namanya tidak menonjol.

Kemarin beredar beberapa video sekelompok orang yang akan sholat berjamaah dengan mendengarkan adzan yang menambahkan kata ajakan berjihad.

Melihat dari mulai beredarnya rekaman video azdan dengan jihad, saya memperhatikan, penyebaran video itu dilakukan pagi persis usai dilakukan adzan di berbagai tempat. Video langsung terkumpul dan disebar bersamaan.

Menyusul tersebarnya laporan seorang agen intel kepada komandannya. Tentu laporan tanpa nama.

Kedua hal ini tersebar dengan disengaja.

Oleh FPI cs?

Bukan.

Oleh intelijen yang memang sudah merencanakan menyebarkannya.

“Open inteligent” sebutannya. Sebuah operasi yang sengaja dilakukan dengan cara sengaja membuka informasi.

Untuk apa?

Melihat reaksi publik dan berbagai organisasi-organisasi (dalam konteks ini ormas Islam) lain terhadap fakta yang terjadi.

Dampaknya, publik memandang negatif adzan dengan jihad itu. Ormas Islam terbesar NU dan Muhammadiyah pun menolak tindakan adzan dengan seruan jihad.

Aparat hukum kini telah mengantongi dukungan publik.

Di saat yang sama, 1 Desember 2020 ini, gembong FPI Rizieq Shihab dipanggil oleh kepolisian. Rizieq setelah kabur dari RS Ummi, ternyata bersembunyi di sebuah perumahan di Sentul. Apesnya, warga perumahan tersebut juga menolak keberadaan Rizieq di situ, mereka berdemo dengan membawa spanduk agar Rizieq keluar dari komplek perumahan mereka.

FPI memang “lahir” dari aparat, tapi kini nafasnya harus dihentikan oleh aparat.

Setelah izin ormasnya tidak diperpanjang, FPI menjadi ormas ilegal, dan hanya perkumpulan biasa atau gerombolan. Upaya “mematikan”nya kini hanya lewat penegakkan hukum. Sudah banyak tindakan-tindakan para pentolan FPI yang bisa terkena pasal hukum. Tinggal cyduk lalu tiriskan, sajikan selagi panas, hehehe.

Mari kita nantikan babak selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here