Kerja Senyap Menlu Retno dalam Peran Indonesia Menjadi Juru Damai di Afghanistan

SintesaNews.com – Tak perlu panggung politik, Menteri Luar Negeri Reto Marsudi sejak tahun 2017, ketika Presiden Afghanistan meminta Indonesia membantu perdamaian di sana, terus melakukan berbagai pertemuan dengan para pemimpin negara lain yang juga mensupport perdamaian di Afghanistan.

Tanpa diketahui publik, Menlu Retno menunjukkan nyali perempuan Indonesia dengan bertemu langsung Wakil Pimpinan Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, membahas rencana perdamaian di Afghanistan. Itu terjadi pada Bulan Mei 2019, di Doha, Qatar.

Menlu juga melakukan berbagai pertemuan informal bersama Qatar, Uzbekistan, Norwegia dan Jerman, sebagai negara-negara co-facilitator, hingga terjadinya Penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Taliban yang berlangsung di Qatar, 29 Maret 2020.

Saat itu Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi melakukan enam pertemuan bilateral.

“Perjanjian Damai antara Amerika Serikat dan Taliban yang akan ditanda tangani hari ini di Doha, Qatar adalah langkah awal dari proses perdamaian untuk  Afghanistan,” disampaikan Menlu Retno dalam pertemuan marathon yang dilakukan dengan Menlu Norwegia, Qatar, Uzbekistan, utusan khusus Presiden Trump untuk Afghanistan, Utusan khusus Jerman dan Inggris untuk Afghanistan. (29/2/2020)

Usai dari Doha, Menlu Retno tancap gas terbang ke Kabul, Afghanistan (1/3/2020).

“Saya akan terbang malam ini ke Kabul untuk meluncurkan Indonesia-Afghan Women Solidarity Network bersama dengan tokoh perempuan Indonesia untuk membahas pemberdayaan perempuan dalam mendorong perdamaian di Afghanistan” tegas Retno.

Setidaknya ada dua fokus Indonesia untuk mewujudkan perdamaian di Afghanistan yaitu dengan mengangkat peran ulama dan pemberdayaan perempuan.

“Indonesia itu mengandalkan dua building blocks, pertama terkait ulama karena ulama memegang peranan penting,” kata Retno di Hotel Sheraton, Doha, Qatar, Sabtu (29/2/2020).

Fokus kedua Indonesia yakni meningkatkan pemberdayaan perempuan di Afghanistan.

“Itulah yang kita perlukan berdialog, berkomunikasi. Jadi pada saat saya gagas isu ini saya bicara mereka semua. Nah sekali lagi yang penting kita buka komunikasi di sana-sini masih ada perbedaan itu wajar, tapi kita tidak ingin lihat bahwa perempuan kehilangan hak-haknya di masa depan Afghanistan,” katanya.

“Dan tujuan Indonesia tidak untuk ancam siapapun, mereka tahu apapun yang kita lakukan tujuannya membantu dan menciptakan perdamaian bagi masyarakat Afghanistan,” imbuhnya.

Pada 20 November 2020, di hadapan PBB, Menlu Retno mendesak masyarakat internasional untuk memperkuat komitmen dan kontribusi mereka supaya perdamaian dapat terwujud di Afghanistan.

Desakan Menlu Retno itu diungkapkan pada Arria Formula Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang digelar secara virtual, Jumat (20/11).

Menlu sangat terganggu dengan peningkatan kekerasan di Afghanistan yang tahun ini sudah menewaskan sekitar enam ribu warga sipil.

“Keadaan ini menggarisbawahi sangat mendesaknya untuk memulai proses (perundingan intra Afghanistan). Kita tidak punya pilihan lain kecuali untuk memastikan pembicaraan damai bergulir,” kata Retno.

Kemudian di awal Desember 2020 ini Menlu Retno menyampaikan, “Dalam perkembangannya, pada tanggal 2 Desember 2020 kedua pihak telah berhasil menyepakati tahap awal perundingan yaitu rules of procedures.”

“Indonesia menyambut baik kesepakatan yang merupakan langkah penting menuju perdamaian abadi di Afghanistan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Menlu Retno berharap Afghanistan-Taliban dapat segera membahas upaya-upaya mengakhiri kekerasan, antara lain dengan menerapkan jeda kemanusiaan atau humanitarian pause yang diharapkan dapat berlanjut dengan kesepakatan gencatan senjata yang permanen.

“Indonesia juga berkomitmen terhadap upaya-upaya menciptakan perdamaian yang berkelanjutan dengan memberikan dukungan peningkatan kapasitas maupun dukungan dalam proses pembangunan Afghanistan termasuk pelibatan peran perempuan Afghanistan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here