Kisah Pendeta Cabul dan Gadis Kecil yang Depresi Akibat Rudapaksa

Ilustrasi: pixabay

Penulis: Philips Joeng

BELASAN TAHUN GADIS KECIL INI MENANGGUNG KENGERIAN SEORANG DIRI

Cerpen ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan kisah atau tokoh, itu bukankah, eh… bukanlah suatu kesengajaan.

#####

Ia masih usia 10 thn saat disetubuhi dengan paksa pertama kali oleh pendeta bejat itu. Diajak berdoa/dipersuasi bahwa hal itu wajar. Akibatnya ia justru jijik tapi jatuh cinta pada pemerkosanya. Sebagai wanita yang baru beranjak remaja yang masih sangat naif tentang laki-laki, tapi di saat yang sama tubuh kecilnya sudah mens pertama kali, dan mulai terpapar hormon-hormon reproduksi yang sedang aktif-aktifnya. Fase bingung seorang gadis kecil yang beranjak remaja.

Lalu tiba-tiba ia diperkenalkan pada hubungan seksual sebelum waktunya. Walau awalnya menolak, ia tak kuasa menahan kekuatan laki-laki yang memperkosanya. Ia masih 10 tahun. Kelas 4 SD. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apalagi ia dibungkam saat itu. Ia juga tak tahu harus bercerita pada siapa. Hatinya kalut dipenuhi rasa takut.

Tiap hari ia diantar orangtuanya yang berharap sang pendeta mendidiknya dengan baik. Ia tak kuasa menolak saat diantar. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana karena tak seorangpun yang bisa diajaknya bercerita. Sebab jika bercerita, ia takut aibnya akan tersebar ke mana-mana.

Satu kali, dua kali, tiga kali, dan berkali-kali ia diantar, dituntun, diserahkan pada pemerkosanya. Antara rasa sakit dan nikmat. Benci dan rindu. Menolak dan menerima, dual feelings yang terus bertarung di hati dan pikirannya. Lama-lama ia pun timbul rasa ingin berhubungan seks juga. Dan kecanduan. Sehingga ia tak kuasa ketika jerat seks itu membelenggunya. Ia tak lagi menerima tapi menuntut pemenuhan hasrat. Rasa berdosa, rasa bersalah, rasa galau, dan berbagai rasa lain sudah tak digubrisnya lagi.

Wanita ini punya website dan blog. Jika kamu membaca curahan hatinya di sana dan melihat desain-desain lukisannya. Kamu akan bisa merasakan sayatan hati yang tergores tajam dalam semua tulisan-tulisannya. Dan aura yang sangat dark but pinky dalam semua desain lukisan-lukisannya. Warna-warna yang sangat bertabrakan. Sungguh sangat mudah dipahami perjuangannya selama belasan tahun menanggung nafsu pendeta bejat itu dan juga nafsunya sendiri sebagai seorang wanita muda. Berjibaku dengan rasa berdosa, rasa malu, rasa jijik, rasa nikmat, rasa bingung, rasa putus harapan karena tak tahu harus bagaimana dan berkata pada siapa….

Ia pun memaksa diri untuk menerima keadaan. Dididik tentang pengetahuan dan agama di pagi hari, dilatih musik rohani setiap siang, dan diperkosa saat sore menjelang pulang. Di sekolah mau pun di rumah ia dikenal sebagai “Gadis Pendiam”. Dijuluki teman-temannya sebagai “Silencer” karena ia sangat pendiam. Tak heran nilai-nilai di sekolahnya tak pernah bagus.

Tapi, latihan menyanyi sungguh menghiburnya dan bisa sejenak melepaskannya dari semua beban. Maka ia pun berlatih, berlatih, dan berlatih. Suaranya dikenal cukup bagus. Ia bahkan berhasil membuat album bersama penyanyi-penyanyi rohani terbaik di gerejanya, bahkan dengan penyanyi-penyanyi rohani top di Indonesia.

Pernah berkali-kali terlintas dibenaknya untuk mati bunuh diri, tapi musik Gereja yang syahdu berkali-kali menariknya kembali dari lembah kematian yang ingin ditujunya. Memanggilnya pulang dari perjalanan menuju neraka. Pujian dan penyembahan pada Tuhan benar-benar menjadi penyelamat hidupnya.

Tapi hati nurani tak bisa menipu. Ia tak bisa terus menerus hidup dalam kepalsuan. Di saat pendeta bejat itu makin sibuk karena makin terkenal, gerejanya makin besar, dengan visi misinya yang luar biasa, ingin membentuk pusat kegiatan para keluarga-keluarga yang bahagia, A Happy Family Centre. Sungguh visi yang berbanding terbalik dengan kebejatannya yang justru menghancurkan keluarga. Membuat seorang ayah yang setegar mafioso bisa meratap histeris setiap hari hingga saat ini, membuat ibunya yang sosialita terus menangis meraung-raung setiap hari hingga saat ini, membuat saudara-saudaranya mengalami tekanan mental yang sungguh berat.

Hancur sudah keluarga ini. Hilang lenyap semua rasa percaya mereka pada manusia bahkan Tuhan. Mereka terus menyalahkan diri mereka sendiri. Tak menyangka bahwa mereka sendirilah yang selama ini mengantar anak gadisnya untuk direnggut keperawanannya, disobek selaput daranya, diperkosa berkali-kali, dan dinikmati tubuh belianya bertahun-tahun di balik sudut tersembunyi ruang doa pribadi sang pendeta yang dilengkapi kasur Kingkoil itu. Mereka meratapi dan menyesali, kenapa dulu mereka selalu memarahi gadis kecil mereka setiap kali menangis karena menolak berangkat sekolah.

Membentak, menghardik, dan memaksanya karena mengira gadis kecil mereka malas belajar. Mereka tak tahu bahwa mereka telah menjebloskan darah daging mereka sendiri ke neraka yang mengerikan, dengan serigala buas berwajah malaikat di dalamnya. Mereka juga tak sadar perkembangan gadis ini. Yang menjadi sangat pendiam setelah goncangan semua peristiwa yang dialaminya.

Suatu hari, kasih sayang langit turun. Di saat pendeta bejat itu mulai jarang menemuinya lagi, karena makin terkenal sebagai pendeta besar, dibela para pemujanya sebagai orang suci yang diraupi (bukan diurapi), gerejanya mulai besar, dan diundang di mana-mana. Gadis kecil ini terseok-seok keluar dari lubang persembunyian jiwanya. Ia merasa sedikit tenang karena tak perlu lagi melayani nafsu bejat serigala itu. Ia mulai membuka diri dan hatinya pada dunia.

Ia bertemu seorang pemuda yg sungguh mencintainya. Butuh bertahun-tahun untuk ia bisa percaya lagi pada laki-laki. Akhirnya mereka pacaran. Dan kepada belahan jiwanya inilah ia bisa mulai bercerita semua hal. Pacarnya mendengar dengan hancur hati, semua kisah, jeritan, tangisan, dan tetesan air matanya. Hingga akhirnya pacarnyalah yang justru memeluknya erat, mengajarkan padanya tentang pengampunan, kasih sayang, dan berjuang bersama menyusun kembali rasa percaya bahwa masih ada cinta yang tulus di luar institusi-institusi agama. Sikap dan kasih sayang yang sungguh berbeda 180 derajat dibanding sang pendeta. Hingga akhirnya ia benar-benar bisa percaya dan membuka hatinya yang sudah sangat terluka pada pria baik ini.

Pria ini sebenarnya sudah menyarankan agar kasus ini diungkap. Namun ia terus menolaknya. Karena tak ingin dihujani rasa malu. Sebab kasus ini sudah terlalu lama, 17 tahun lamanya. Ia takut dihujat bahwa dirinyalah wanita penggoda, mau sama mau, dsb. oleh para pembela pendeta. Pasukan Kristen Tolol yang membabi buta jika pendetanya diusik.

Tiga tahun berlalu. Ia sudah tak lagi bertemu pendeta bejat itu. Ia tenggelam dalam sukacita dalam kisah cintanya sendiri. Ia pun memutuskan untuk menerima saat kekasihnya meminangnya. Ia benar-benar ingin menikah, dan pergi jauh ke luar negeri. Mereka berdua ingin melupakan semuanya dan hidup damai di Canada membesarkan anak cucunya. Maka pernikahannya pun dipersiapkan. Mulai dari pesta hingga pemberkatannya diatur dengan sebaik-baiknya. Papa – mamanya pun merasa bahagia karena lega, akhirnya anaknya tak lagi menolak untuk menikah.

Saat rapat keluarga, beserta para EO, dan panitia pesta. Diputuskanlah tanggal pesta, hotel, MC, Band, dsb. Dan dibahas juga tentang prosesi pemberkatan nikah suci dan tentu saja siapa pendeta yang akan memberkatinya. Keluarganya dengan tertawa bahagia pun menyebut sebuah nama. Nama pendeta yang selama ini mereka percayai untuk melayani keluarga kaya ini.

Satu nama pendeta yang sudah 3 tahun berlalu mulai dilupakannya, tiba-tiba muncul kembali disebut di depannya. Dalam sekejap, semua ketakutan, kengerian, rasa jijik, malu, marah, benci, dsb. muncul bersamaan dan membuatnya tercekam dan tertekan. Ia pun tak lagi sadar diri dan tiba-tiba menjerit-jerit histeris di ruangan itu. “Tidaak!!! Aku nggak mau!!! Jangan pendeta itu!!! Jangan diaaaaa…!!!” Ratap tangisnya pun tumpah….

Semua keluarga dan panitia jadi bingung. Mengapa ia terus berteriak-teriak kesetanan seperti itu. Seolah semua roh-roh jahat yang merayapi tubuhnya saat ditiduri sang pendeta terlepas semuanya. Ia bahkan harus dipegangi beberapa orang karena meronta-ronta dengan kuatnya.

Akhir kisahnya pun kita sudah tahu bersama. Wanita malang ini terpaksa masuk rehabilitasi psikis. Ia harus diawasi 24 jam oleh para psikolog karena menderita depresi tingkat tinggi. Dan akhirnya seluruh keluarganya tahu dan memutuskan untuk menjebloskan pendeta bejat tsb. ke penjara.

#####

Saya sengaja menulis cerpen ini untuk menyampaikan pesan & memberi kesadaran, khususnya bagi mereka-mereka yang selalu melontarkan pertanyaan paling TOLOL didunia. Yakni:

“Kenapa baru sekarang dilaporkan?”

“Untuk apa harus nunggu 17 tahun untuk dilaporkan?”

“Itu namanya mau sama mau!!!”

Dan berbagai pernyataan GOBLOK sejenis.

Apa mereka tidak sadar bahwa anak gadis usia 9-10 tahun, masih kelas 4 SD itu tahu apa soal sex?? Lalu secara licik dipersuasi, dimanipulasi dan diperkosa serta ditiduri belasan tahun lamanya. Vagina & clitorisnya dipaksa untuk tahu tentang sex dan penis pria sebelum waktunya.

Sekali lagi…, anak umur 9-10 tahun, masih kelas 4 SD. Tahu apa??

Kedua, bagi Manusia2 Agamis STUPID yang mengkait2kan kasus ini dengan Agama, tapi lupa bahwa Serigala2 yg sama juga berkeliaran di rumah2 ibadah mereka.

Otak kalian begitu bodoh & hati kalian begitu jahat, hingga sampai hati berkata2 demikian.

Semoga setelah membaca cerpen ini kalian segera bertobat dari KESINTINGAN kalian. Kalo nggak, mati aja loe sana. Dasar manusia-manusia BEGO!!!

Buat kalian para wanita yang pernah mengalami kisah yang mirip atau sama. SPEAK OUT!!!

Written by:
(Philips Joeng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here