Kisahku Seorang Muallaf yang Tak Lagi Diakui Anak oleh Ayah

Ini tahun ketiga sejak pernikahanku yang kedua. Sudah 3 tahun pula aku menjadi seorang muallaf.

Tepat di Hari Ayah ini aku merasa rindu sekali sama ayah. Dulu aku adalah anak kesayangan ayah, tapi semenjak aku berpindah keyakinan, ayahku begitu marah sama aku. Sudah tiga tahun ini pula aku tidak bisa berkomunikasi dengan ayahku. Mungkin ayah sudah membenciku. Meski tak ada setitik pun rasa benciku pada ayah yang sudah membesarkanku.

Bagi ayah, aku anak yang murtad, dan dia gak mau lagi mengakui aku sebagai anaknya.

Biar kutelan rasa sakit ini sendiri. Karena ini memang keputusanku.

Sejak aku mengenal pria yang kini menjadi suamiku, aku memang telah mengikuti agama yang suamiku anut.

Saat itu hidupku baru saja kandas. Pernikahanku gagal. Suamiku tugas ke luar pulau selama 1 tahun. Dalam kurun waktu itu ia hanya pulang 3 bulan sekali. Tapi akhirnya ia kini malah memiliki istri yang lain di luar pulau.

Meski sangat sakit dan hancur hatiku, tapi aku tak mau menjalani hidup dengan kenyataan ini. Kuputuskan untuk bercerai saja.

Aku hampir mau bunuh diri. Rasanya ingin mati saja dan menyerah untuk melanjutkan hidup.

Di saat-saat itulah aku bertemu dengan seorang lelaki sederhana. Perkenalan kami biasa saja, tak ada yang istimewa. Berawal dari stasiun kereta. Waktu itu aku seperti tak punya tujuan, mau ke mana dan bagaimana, aku cuma membeli tiket kereta ke arah timur pulau ini ingin pergi jauh. Namun takdir berkata lain.

Seorang laki-laki kebingungan baru saja turun dari kereta, ia bertanya padaku arah tujuan yang akan ia tuju. Kebetulan aku tau tujuannya ke mana. Kusarankan untuk naik kendaraan umum tertentu padanya. Anehnya seperti tergerak oleh takdir, aku bersedia menemaninya ke arah yang dimaksud. Karena ia betul-betul sedang kebingungan.

Lelaki itu ternyata baru saja mendapat panggilan wawancara pekerjaan di sebuah perusahaan. Orang baik yang kulihat.

Sejak itu tanpa sadar kami jadi sering ngobrol di chat. Aku paham ia mungkin tidak banyak mengenal orang di kota ini yang bisa menjadi temannya.

Witing tresno jalaran soko kulino. Terbiasa ngobrol, lama-lama sering bertemu, entah untuk sekedar makan atau jalan-jalan. Aku paling senang menunjukkan kepadanya apa yang menarik di kota ini, dan lucu jika melihat dia terheran-heran.

Kami pun jatuh cinta. Dan mulailah babak bagaimana keinginannya untuk serius menikahiku. Aku yang pernah gagal berumah tangga masih menyimpan trauma. Namun di sisi lain aku mencintainya.

Sampai-sampai saat dia mengajak aku untuk berpindah keyakinan, aku percaya saja dan mulai mempelajari keyakinannya. Orangtuaku menentang, keluargaku apalagi. Adikku sama sekali tidak mau lagi bicara padaku.

Dan akhirnya kami pun menikah meski keluargaku menentangnya.

Tapi kini suamiku makin sibuk dengan pekerjaannya. Pulangnya bisa lewat larut malam. Atau di lain hari ia pergi pagi-pagi sekali. Aku memahami. Toh dia kerja keras untukku juga.

Dan hari ini suamiku pergi berangkat kerja pagi sekali, hingga ia lupa untuk memberikan uang belanja. Aku tak bisa mengirim pesan ke suamiku untuk soal ini. Aku paham dia sibuk sekali. Dan dia pun pernah wanti-wanti untuk jangan menghubunginya saat ia sedang kerja karena mengganggu konsentrasinya.

Bersyukur aku punya teman-teman di dunia maya yang baik-baik. Mereka dengan ikhlas memberikan aku bantuan. Aku mengatakan bahwa aku meminjam, namun teman-temanku di grup medsos kerap mengatakan “tidak usah diganti, ambil saja.”

Sampai sini aku ga tau lagi harus nulis apa.

Ini juga hanya cerita fiksi karanganku saja.

Tapi kalau memang mau membantuku, hubungi saja redaksi media ini.

(Erri Subakti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here