Melacak Sumber Awal Puisi Indah “Ketika Agama Kehilangan Tuhan” Bukan Karya Gus Mus

Sumber gambar: steemit

SintesaNews.com – Sebuah puisi indah dan sangat menyentuh ini telah beredar luas di dunia maya dalam kurun waktu 3 tahun belakangan. Banyak netizen yang mencantumkan nama KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai penulisnya.

Berdasarkan penelusuran melalui situs pencarian Google, berikut beberapa sumber awal puisi indah tersebut.

Pada 16 Desember 2017, blog serambimata.com mempublish tulisan tersebut dan mencantumkan nama Gus Mus sebagai pencipta puisi indah itu.

​Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Nampak dalam blog tersebut penuh dengan tausiah-tausiah dari Gus Mus.

Pada 19 Desember 2017, website masshar2000.com memposting juga syair menyentuh itu.

Gus Mus – Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Setelah itu banyak blog, website, media online, menyebarkan juga tulisan itu. Termasuk republika.com.

Hingga tahun 2020 pun di laman FB masih banyak yang mengcopy tulisan tersebut, tapi sayangnya syair indah itu diragukan berasal dari karya Gus Mus.

Berikut ini syair “Ketika Agama Kehilangan Tuhan” oleh anonym (tanpa nama).

KETIKA AGAMA KEHILANGAN TUHAN

Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.

Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.

Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here