Mengapa Harus Hajar Santri Saat Emosi, Emange Mereka Samsak Tinju Boxing

Penulis: Nurul Azizah

Akhir-akhir ini di medsos beredar video yang isinya ada seorang ustad hajar sejumlah santri saat mereka posisi tiduran.

Hal ini terjadi di wilayah kerja Polres Demak. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Rabu (1/9/2021) malam di pondok pesantren Tahfidz Anak Darul Musthofa, Wonosalam Demak.

Pelaku yang oleh santri dipanggil ustad ini berinisial M (33) dan sudah diamankan oleh pihak Polres Demak.

Saat diwawancarai oleh polisi, ustad tadi membeberkan kronologi penganiayaan yang dilakukan oleh dirinya terhadap santri-santrinya.

Kasatreskrim Polres Demak, AKP Agil Widiyas menuturkan kronologi peristiwa tersebut. Saat itu jam 22.00 WIB ustad M melakukan pengecekan di kamar santri. Banyak santri pada belum tidur, lantas M menegur dan mengingatkan para santri untuk segera tidur. Tapi para santri malah membantah perintah ustadnya. Dari sinilah ustad M terpancing emosinya.

Tanpa berfikir panjang ustad M dengan sadis melakukan penganiayaan terhadap para santri serta menampar dengan tangan kosong.

Peristiwa penganiyaan yang terekam lewat video disebarluaskan. Secepat kilat video itu masuk dalam pemberitaan di medsos.

Ustad M ditangkap pihak kepolisian dan para santri yang menjadi korban penganiayaan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Saya juga heran ada seorang ustad pengasuh pondok pesantren dengan teganya melakukan penganiayaan terhadap santrinya.

Ngeri banget lihat videonya, ustad M seakan-akan lagi latihan tinju bahkan sambil boxing. Pria tersebut tampak memukuli sejumlah bocah berulang kali dengan penuh emosi sambil mengucapkan kata-kata dengan nada tinggi. Tampak beberapa santri menerima pukulan dengan posisi tiduran.

Ustad M tidak berfikir panjang akibat yang akan timbul pada santri-santrinya.

Orang yang menghukum anak dengan penuh emosi dalam keadaan marah akan berakibat fatal bagi santri dan dirinya.

Akibat dari perbuatan ustad M diantaranya, kejadiaan penganiayaan terhadap santri tidak ada manfaat sama sekali. Santri yang diperlakukan seperti samsak tinju akan menimbulkan rasa antipati dan kebencian dalam diri anak.

Pukulan ala petinju dan pemain boxing bukan tujuan untuk mendidik, melainkan untuk memuaskan diri dan menyalurkan kemarahan yang bergejolak dalam dada terhadap santri yang seharusnya dilindungi dan dikasihani.

Ustad M saat dalam keadaan marah terus memukul bak pemain tinju dan boxing, sesungguhnya dia tidak bisa mengendalikan emosi amarahnya. Orang yang dalam keadaan marah dan emosi biasanya tidak memelihara ajaran-ajaran yang ada di hadis dan Al-quran saat menimpakan pukulan.

Tanpa disadari ustad M, pukulannya kena ke tubuh yang sangat sensitif, seperti kepala, tengkuk, leher, dan kemaluan. Sesungguhnya bagian-bagian tubuh ini tidak boleh dipukul.

Bisa jadi pukulan yang mendarat di kepala, tengkung, leher dan kemaluan akan menimbulkan cacat permanen pada diri santri. Bahkan sudah cukup banyak kisah-kisah penganiayaan yang menimbulkan kematian atau tragedi yang memilukan.

Semoga peristiwa ini tidak ada lagi di lingkungan pesantren yang seharusnya tempat paling aman untuk perlindungan anak.

Saya sedikit memberi saran, untuk nasehati santri tidak harus maen pukul, jotos dan tendang, apalagi hukuman itu dilakukan saat marah bahkan emosi.

Hukuman tidak bagus dilakukan dengan kekerasan, karena berakibat sangat buruk terhadap santri.

Kekerasan yang dilakukan ustad M terhadap santrinya akan membahayakan bagi tubuh, akhlaq, sosial dan perasaan mereka.

Harus dicari cara lain untuk mendidik santri di lingkungan pondok pesantren. Ibarat pepatah, “sedia payung sebelum hujan.”

Mendidik harus dengan bijaksana, jangan sampai menjerumuskan dalam berbagai kekeliruan yang merusak masa depan santri atau peserta didik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here