Pasien Covid-19 Bukan Aib

Penulis: Arif B. Santoso

Sore tadi,
Aku dapat cerita dari
kerabatku di Lumajang.
Seorang aktivis sosial.

Tentang nasib seorang mantan penderita Covid yang sembuh
Dan tentang seorang tua perantau dari Jakarta yang pulang ke rumahnya.

Ada seorang penderita positif covid yang berhasil sembuh setelah dirawat di RSUD Lumajang
Beritanya ada di koran lokal,
Semua orang bahagia.
Bahkan kabarnya Pak Bupati Lumajang sampai mengirim karangan bunga.
Bercerita tentang itu di FPnya dengan penuh kelegaan.
Kepulangannya diantar wajah cerah para dokter dan perawat.
Semua memberi semangat dan hormat.

Mantan pasien diantar ke rumah menggunakan ambulans.
Datang dalam kondisi lunglai.

Keesokan harinya ia meninggal dunia.

Karena Covid yang kumat?
Bukan!
Tapi karena tekanan batin.
Keluarganya memaki dan mengejeknyan seolah ia pembawa aib bagi keluarga.
Tak satupun yang menyambut gembira.
Semua mencaci.

Lalu,
Seorang tua yang pulang dari perantauan di Jakarta.
Aku pernah tulis ini di FBku.
Sekitar 2 bulan lalu.
Cerita tentang seorang tua yang tergeletak sekian jam di depan rumah anaknya.
Tak satupun keluarga yang menolong,
Sampai akhirnya ia dibawa oleh ambulans RSUD, perawat datang dengan APD komplit.

Apa sesungguhnya yang terjadi?
Ia sudah berkeliling ke rumah anak-anaknya. Tak satupun yang mau menerima.
Sebab ia baru datang dari Jakarta.
Kelelahan, ia ambruk di rumahnya sendiri.
Yang dihuni anak dan mantunya.

Setelah diperiksa, ternyata penderita Diabetes.
Kelelahan dan tekanan batin.
Tanpa ada sebutir viruspun di tubuhnya.

Apa moral cerita ini?
Silakan berpikir,
Apakah pernah ada di antara kalian yang
Pernah menyebar kepanikan di berbagai platform media sosial?
Mungkin saja cerita kalian itu sampai ke telinga keluarga mereka.
Mereka berdua, korban kepanikan kalian.

Telek lencung!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here