Sinergitas Polri dengan Pesantren: Budaya Rileks dan Pandemi Covid

Penulis: Nur Ahmad Elkhusayni

Varian-varian Covid yang baru muncul pada tahun ini tidak menyurutkan semua sektor kehidupan untuk menangani pandemi ini, terlebih lagi di beberapa sektor kehidupan. Seperti pesantren, sekolah dan lingkup sosial lainnya dalam kesempatan kali ini.

Minggu 20 Febuari Tahun 2022, Kapolres Salatiga bekerja sama dengan Pondok Pesantren Alfalah Salatiga yang terletak di Jalan Bima No.02 Dukuh Sidomukti Salatiga, dalam konteks ini masih sangat terbatas karena yang dilakukan adalah Vaksin Booster.

Meskipun berbagai media semakin hangat memuat berita ancaman pandemi. Serta Pemerintah sudah melaksanakan strategi dan persiapan menghadapi segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Para masyarakat tampak tenang saja. Apa lagi para santri yang jarang bersentuhan dengan dunia luar. Bersentuhan dengan dunia luar saja masih tetap terbatas. Meskipun dalam media ada yang mengabarkan ada yang meninggal, tempat isolasi penuh para nakes kelelahan. Akan tetapi masyarakat masih tetap sibuk debat tentang wabah pandemi ini.

Sekitar satu setangah tahun lebih pandemi ini timbul. Masyarkat tetap masih tenang dan santai-santai saja. Seruan aparat pemerintah yang nyaris dengan intensitas tinggi, seolah didengar telinga kanan dan keluar di telinga kiri. Sikap reaksi tidak banyak berubah dan masih tetap santai saja. Sesuai dengan budaya kita yang tetap rileks sebagai pengaruh iklim yang ramah.

Protokol kesehatan mulai ketat diterapkan di mana-mana. Meliputi area publik seperti mall, masjid, stasiun, bandara, pondok pesantren dan tempat umum lainnya. Namun hal itu seolah tidak menyadari bahwa adanya bahaya Covid yang tidak kasat mata.

Ahir bulan Febuari ini tahun 2022 Kapolres Salatiga, Kapolsek Sidomukti dan Pondok Pesanteren Alfalah Salatiga bekerja sama dalam Vaksin Tahap 3. Yaitu vaksinasi Boster ke-3. Dari vaksinasi ini para Dokes atau Dokpol menjemput bola ke Ponpes Alfalah.

Para petugas vaksinasi menyarakan agar pelaksanakan vaksin kali ini tetap memenuhi syarat yang telah ditetapkan Dinas Kesehatan Nasional atau Mentri Kesehatan.

Sebelumnya Pondok Pesantren AlFalah sudah melakaksanakan 2 kali berturut-turut yang telah dilakukan oleh Polres Salatiga. Dalam vaksin 2 kali yang berturut-turut tadi, vaksin tersebut juga diikuti warga sekitar.

Masyarakat, ASN, para pekerja dan sebagian santri baru sedikit tersentak kaget. Ketika varian-varian baru, seperti Varian Delta, Varian Omicron. Varian-varian baru tersebut masuk ke sebagian wilayah Indonesia. Korban pun juga bergelimpangan di mana-dimana dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya.

Barulah muncul kesadaran kelompok untuk membangun sikap gotong-royong atau kebersamaan. Dan hal ini ternyata memudahkan pemerintah dan aparatnya untuk bertindak tidak seperti sebelumnya dan virus pun mulai melandai.

Santri, masayarakat, para aparat dan elemen ormas lainnya bergerak serentak. Dalam keadaan kepepet ini atau bahaya besar, sifat patriotisme timbul secara dahsyat. Seperti halnya arek-arek Surabaya melawan sekutu walaupun dengan senjata seadanya. Budaya rileks sesuatu yang sudah melekat pada pada diri kita semua sebagai bangsa bukan suatu yang negatif yang dibuktikan dengan kita bisa bersama bangkit melawan dan melawan pandemi ini.

Budaya rileks berakar dari ke dalam spiritual yang membuahkan kearifan bangsa dan itu merupakan suatu nilai postif. Tetapi itu tidak cukup, pada saat yang sama perlu sikap dinamis guna menyesuaikan dengan tantangan yang dihadapi. Generasi muda memerlukan penguasaan teknologi tinggi secepatnya.

Dari beberapa uraian tersebut vaksinasi kali ini semoga membuahkan hasil yang maksimal. Terutama pada sektor pendidikan di kalangan pesantren. Mengapa begitu karena pesantren juga menjadi salah satu tiang bangsa ini. Dari para santri semoga setelah vaksinasi kali ini menjadikan dan membangun tingkat spiritualitas dan sikap lainya untuk persiapan generasi yang akan datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here