Tarif Borobudur Naik, Ribut, Istiqlal Gratis, Sepi, Sholatnya di Jalan, Sakarepmu

Penulis: Lutfi Bakhtiyar

Akhirnya kejadian “tarif naik” Borobudur Rp750K, sedang mesjid Istiqlal yang gratisan kok sepi? Bani nganu malah milih sholat di jalan.

Sebenarnya soal Borobudur hanya mengingatkan bahwa muslim zaman now ternyata lebih tenang pergi ke Candi dibanding Mesjid.

Kabarnya memang sudah diprediksikan bertahun-tahun saat runtuhnya Majapahit bahwa 500 tahun kemudian “agama buddhi” akan kembali mendominasi Indonesia.

Buddhi itu diartikan sebagai agama yang berpedoman pada akhlaqul Qarimah, budi pekerti luhur bukan cuma simbol-simbol keimanan. Apalagi zaman medsosan, jejak digital. Mau tidak mau, bisa tidak, bisa orang dipaksa menjadi orang baik.

Makanya dari awal para founding father kita menekankan bahwa Indonesia negara beragama tetapi bukan negara agama.

Tetapi yang namanya gerakan menyalip di tikungan selalu saja ada. Diam-diam Pancasila sudah diganti menjadi “Pancasila bersyariah,” sila ketuhanan yang Maha Esa mulai ditambah-tambah¬†“dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pengikutnya.”

Politik Identitas digalakkan, sedang ahlaq Islami sudah ditinggalkan. Giliran lebaran, minta THR-nya sama non muslim juga.

Sebenarnya saya juga sedih melihat fenomena campur ngawur model sekarang. Sesedih sedihnya sama si Mbak di atas ini.

Tetapi mau dinasihatin nanti tambah kuciwa. Malah pinteran dia ngelesnya, “Pak,¬†dada terbuka apa tertutup kan yang penting jilbaban?”

Sak karepmu. Jilbaban malah kadang membuat kepala panas….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here