Ulat Tepung Kering Jadi Camilan Bergizi di Luar Negeri, Mau Coba?

Ulat tepung kering.

SintesaNews.com – Siapa sangka ulat tepung yang biasa menjadi pakan burung, jika diternakan lalu dipanggang dengan oven atau diolah menjadi abon, kini mulai diminati di luar negeri. Hal ini karena rasanya yang gurih juga proteinnya yang tinggi jauh melebihi protein dari daging sapi apalagi ayam.

Koes Hendra, Alumnus IPB University berhasil memanfaatkan ulat tepung menjadi pangan bergizi.

Melalui Peternakan King Worm, yang berlokasi di Cibungbulang Kabupaten Bogor Jawa Barat, kini Koes telah berhasil mengekspor ulat tepung kering ke berbagai negara seperti Belanda, Singapura, dan Malaysia.

Koes mulai mengembangkan peternakan ulat tepung di bawah naungan PT Sugeng Jaya Grup yang berdiri bulan April 2019. Upayanya telah mendapatkan binaan dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

Menurutnya, satu ekor ulat tepung mengandung protein sebesar 47 persen. Jauh lebih tinggi proteinnya dari daging sapi yang mengandung 18% protein, apalagi jika dibandingkan dengan daging ayam yang hanya memiliki 12% protein.

“Ulat tepung bisa menjadi alternatif sumber protein bagi manusia,” ujar Koes.

“Abon ulat tepung ini juga sudah dipasarkan dan terjual sebanyak 200 botol ukuran 30 gram dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan. Nama lain abon ulat tepung ini disebut dengan mealworm furikake di Jepang,” tuturnya.

“Pengolahan ulat tepung cukup sederhana. Yakni dengan dikeringkan pada suhu 200 derajat celsius lalu didiamkan selama tujuh menit. Setelah itu ulat tepung pun siap disajikan dengan rasa yang gurih tanpa ditambah bumbu apapun,” jelasnya.

Selain dikeringkan, Koes berhasil mengubah ulat tepung menjadi abon. Masih dengan proses yang sederhana. Ulat tepung kering yang sudah dihaluskan ditambah bawang putih, gula, daun jeruk dan cabai, lalu aduk hingga merata dan abon ulat tepung pun siap disajikan.

Keunggulan lain dari budidaya ulat tepung ini ialah hanya dibutuhkan tempat seluas satu meter persegi untuk menampung 60 kilogram ulat tepung.

Ini jauh efisien dibandingkan peternakan ayam yang hanya bisa menampung empat ekor.

“Jenis peternakan ini ialah urban farming, yang bisa dilakukannya budidaya di rumah. Selain itu, kandangya juga tidak mengeluarkan bau,” tandasnya

Kabar baiknya lagi, di Eropa, Badan keamanan pangan Uni Eropa (EFSA) telah menyatakan ulat tepung aman dikonsumsi manusia.

Bagaimana dengan Anda? Mau mulai beternak ulat tepung? Atau perlu mencoba dulu rasa gurihnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here