Konglomerat Orba di Era Jokowi

Tanggal 1 Juli di China/Tiongkok meriah dengan perayaan ulang tahun Partai Komunis China (PKC). Usia 100 tahun PKC selalu menjadi nostalgia manis bagi negara berpenduduk 1,439,323,776 jiwa.

KOLOM

POLITIKA

Dahono Prasetyo

-Iklan-

 

Gerakan buruh melalui PKC dibawah kepemimpinan Mao Zedong bersama Pasukan Revolusi Kuomintang berhasil merebut kekuasaan dari kaum bangsawan dan kapitalis. Kekuasaan Monarki Dinasti Qing tumbang di tahun 1921. Mao memproklamirkan negara RRC (Republik Rakyat China) pada 1 Oktober 1949.

Revolusi China tidak lantas berhenti. Den Xiaoping yang juga termasuk petinggi PKC mengambil alih kepemimpinan Mo. Komunis China bergerak ke arah modern. Kekuatan buruh dan tani dikombinasikan bersama pengusaha dan iptek. Den Xiaoping sukses membawa China mengentaskan kemiskinan negaranya secara masif sekaligus menjadi kekuatan ekonomi besar pesaing Eropa-Amerika.

China dengan nama lain Tiongkok bukan lagi Komunis, menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia dengan kekuatan SDM dan rekayasa teknologinya.

Demikian sekilas China dengan dinamika pasang surut komunisnya. Apa kaitannya dengan Indonesia. Banyak yang beranggapan bahwa ekonomi Indonesia dikuasai China ada benarnya juga. Itulah sejarah kelam China di era ORDE BARU.

Menurut catatan bahwa ada beberapa orang keturunan Cina/Tionghoa yang menguasai ekonomi Indonesia. Beberapa tersebut nama nama antara lain :

1. Sofyan Wanandi (Liem Bian Koen).
2. Sudono Salim (Liem Sio Liong) Almarhum.
3. Eka Tjipta Widjaja (Oei Ek Tjhong).
4. Mochtar Riady (Li Moe Tie)
5. Murdaya Poo (Poo Tjie Gwan)
6. Bob Hasan (The Kian Seng)
7. Prayoga Pangestu ( Phang Djoem Phen)
8. Syamsul Nursalim (Lim Tek Siong)
9. Ciputra (Tjie Tjien Hoan)
10. James Riady (Li Bai La)
11. Sukanto Tanoto (Tan Kang Hoo)

Para konglomerat ini adalah pengusaha yang dibesarkan oleh Orde Baru dan sampai hari ini mereka tetap menjadi konglomerat. Mereka yang sebagian lahir di Indonesia, murni berbisnis dengan memegang teguh prinsip “Kekayaan adalah Kemuliaan”.

Dulu di zaman Orde Baru mereka dikenal sebagai Konglomerat Cendana atau istilah lainnya Konglomerat Jimbaran. Merekalah yang secara rutin nyetor ke belasan yayasan milik keluarga Cendana (Soeharto). Dana setoran itulah yang sebagian digunakan untuk membangun negara. Kelak skema dana perusahaan untuk yayasan pembangunan berubah menjadi CSR ( Corporate Social Responsibilty)

Bisnis para Konglomerat yang lahir dari rahim Orde Baru, sekarang ini rata-rata sudah dikelola oleh Generasi kedua (anak, menantu, orang-orang kepercayaan) dan generasi ketiga (cucu- cucunya). Selain regenerasi juga penyamaran buat mengamankan harta jarahan sekaligus money laundry. Bisnis dan kekayaan mereka muter-muter di situ-situ saja.

Issue Jokowi membesarkan konglomerat menjadi unlogical. Jokowi baru jadi presiden pada 2014, sementara kita tahu konglomerat sudah kaya-raya dari tahun 70an, 80an dan awal 90an. Sejatinya para konglomerat itu semua lahir, besar, diproteksi dan menjadi gurita sejak zaman Orde Baru. Suharto yang membuka kran penguasaan ekonomi seluas-luasnya kepada para pebisnis keturunan, mengatur keuntungan monopoli mereka secara sentralistik dalam celengan “klan Cendana”.

Konglomerat berjaya atas lindungan jaringan Cendana. Mereka yang justru tidak pernah bermain politik, apalagi menyebarkan faham komunis dari leluhurnya. Murni menggerakkan ekonomi negara bermodal sendiri dengan kompensasi penguasaan tanah, perkebunan, tambang, tambak dan sumber daya alam lainnya.

Foya-foya 3 dasawarsa membuat mereka lupa ada rakyat yang selama ini menjadi sapi perah orba melalui jaringan konglomerat China. Kolusi dan Nepotisme yang menjadi “dasar hukum” sepak terjang mereka bertambah satu poin bernama korupsi. KKN demi bisnis dalam skema orba sudah semakin parah. Hingga 98 pecah reformasi pergantian Presiden, tetapi tidak dengan gurita bisnis konglomerasi.

Tahun 1998 hingga awal 2000 menjadi masa paling sulit bagi mereka. Wilayah “jajahan ekonomi” bernama Indonesia diambang pailit. Konglomerat ibarat ayam kehilangan induknya (Suharto). Uang mereka berpindah ke luar negeri sambil berharap situasi berubah atau minimalnya membaik.

Pucuk dicintanya tiba saat SBY berkuasa 2004 selama 2 periode. Aturan main berubah. Konglomerat yang semasa orba bersembunyi di ketiak Cendana kini dialihkan kepada politikus binaan klan Cikeas. SBY yang tak lebih hanya menjadi simbol Neo Orba, politikus bermain ekonomi bersama konglomerat.

Bahasa sederhananya antara Konglomerat Orde Baru dan Politisi busuk New Orde Baru SALING MELINDUNGI & MEMBUTUHKAN. Saat konglomeratnya ada masalah maka politisi yang akan melakukan lobby penyelesaiannya. Sebaliknya bila politisinya butuh dana berpolitik apakah untuk Pilkada atau Pilpres, gantian para konglomerat itu yang membiayai. Skandal Century salah satu contohnya.

Catatan tambahannya tidak semua etnis China di era New Orba ikut bertanggung jawab pada penguasaan Ekonomi Indonesia. Etnis Cina yang miskin, gembel, hidup susah karena berjudi, jaga warung kelontong atau jualan elektronik jumlahnya jutaan. Merekalah yang justru lebih sering berselisih sosial dengan warga pribumi.

Etnis China itu dulunya diperalat Suharto untuk alat bisnis, kini berkembang biak dalam kehidupan sosial, mempengaruhi banyak hal. Di era SBY mereka bersembunyi di belakang politikus, berharap perlindungan bisnisnya yang mulai terganggu gejolak kesadaran rakyat selepas Reformasi.

Dan di tahun 2014 konstelasi mereka mengalami kontraksi hebat saat Jokowi mengambil alih skema kepemimpinan. Jokowi yang Nasionalis bersikeras memberantas pemburu rente tanpa pandang bulu. Konglomerat hitam diberantas sepaket dengan politikus busuknya. Pilihannya bertahan dengan aturan main baru atau hengkang. Beberapa diantaranya memilih pasrah pada kebijakan Jokowi, sebagian lagi bersembunyi di ketiak kubu oposisi.

Sementara ini dapat disimpulkan, Jokowi mengupayakan keseimbangan. Dosa masa lalu konglomerat orba dibina, jika berkeras dibinasakan jadi pilihan paling realistis.

Jika kita sering mendengar istilah kebangkitan Komunis, dimungkinkan muncul dari gagasan konglomerat China yang tak paham sejarah negaranya. Komunis yang di China sudah mati sejak Deng Xiaoping berkuasa. Mereka yang tak sepakat aturan main ala Jokowi, tapi berkeras bertahan di Indonesia, berkolaborasi dengan sisa-sisa politikus busuk.

Jokowi tidak sedang dikuasai China, bukan pula sedang “kesurupan” komunis. Tapi sedang menata dahsyatnya kerusakan negara akibat ulah Orde Baru.

Lalu muncul pertanyaan: Bagaimana dengan Ahok yang China kafir itu? Mengapa bisa berada dalam lingkaran kekuasaan?

Ahok salah satu etnis China yang menjadi korban kekejaman Orde Baru. Ahok yang tersakiti oleh KKN Orba justru berubah menjadi Nasionalis. Salah satu orang yang paham lika liku konglomerat namun menolak menjadi konglomerat.

Ahok juga menjadi “kecelakaan politik” terbesar di Indonesia.

(Bersambung: Nasionalisme Ahok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here