Potret Anak-anak Arab Tak Bercadar, Sementara Anak di Indonesia?

Penulis: Langit Quinn

SintesaNews.com – Beredar foto-foto Presiden Jokowi yang tengah berkunjung ke Uni Emirat Arab dan disambut oleh anak-anak perempuan di UEA yang mengibarkan bendera. Anak-anak tersebut nampak seperti anak-anak pada umumnya. Wajah penuh keceriaan, menunjukan senyum yang jujur, dan tawa yang sempurna. Layaknya surga dunia.

Wajah-wajah polos mereka yang dihiasi kebahagiaan tentu membuat siapapun yang melihatnya merasa damai. Kostum yang mereka kenakan juga layaknya anak-anak pada umumnya. Maksudnya dengan nama besar Arab, tentu orang berpikir, perempuan Arab mayoritas mengenakan cadar.

 

Bisa disaksikan tak ada satu anakpun yang memakai jilbab, bahkan cadar. Kostum yang mereka kenakan juga penuh warna-warna ceria.

Bandingkan dengan foto anak-anak di Probolinggo. Saat acara pawai karnaval TK dan PAUD memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan RI beberapa waktu lalu. Pawai tersebut jadi viral di dunia maya karena salah satu peserta TK mengenakan jubah dan cadar sambil memegang senjata laras panjang mainan. Layaknya anak-anak yang mau perang. Senyum? tak akan kita lihat, karena tertutup burka. Wajah polos? Kita kehilangan!

Dengan model baju yang mereka kenakan, boro-boro damai, yang kita rasakan justru kesan ‘suram’ dan mengerikan! Mengingatkan kita akan ISIS. Iblis yang diciptakan oleh negara yang haus minyak bumi. Yang akan membunuh siapapun yang mereka anggap kafir!

Wajah polos layaknya anak-anak, telah ditutupi kesuraman oleh orang-orang ‘gila’ yaitu guru-gurunya yang menyeting mereka menjadi seperti itu. Menjadi anak-anak yang terkesan haus darah dan ingin menembaki kepala orang lain. Ngeri!

Ini anak TK, anak-anak yang masih polos. Yang bahkan tidak tau apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mungkin taunya, itulah superhero. Guru-gurunya menanamkannya demikian di dalam batok kepalanya!

Anak-anak itu berasal dari TK Kartika V-69 Kota Probolinggo, meskipun
kepala sekolahnya, Hartatik , telah dicopot, tetapi hal seperti itu tentu tak akan hilang begitu saja. Karena pemikiran radikal itu sudah ada dalam batok kepala pembuatnya.

Miris memang, bagaikan budaya yang tertukar. Ketika anak-anak di Arab dengan senyum cerianya mengenakan baju layaknya anak-anak normal, di Probolinggo dan mungkin beberapa wilayah di negara kita, anak-anaknya justri dijejali pemahaman radikal dan pakaian-pakaian yang tidak mencerminkan budaya kita. Demi ambisi gila oleh orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya. Orang-orang bodoh nan dungu.

Di Uni Emirat Arab sendiri, anak-anaknya dibiarkan tampil layaknya anak-anak normal, sementara di Probolinggo sana? Anak-anaknya di buat layaknya ISIS!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here