Anies, Babi, dan Khilafatul Muslimin

Penulis: Erri Subakti

Terus terang tulisan ini saya buat hanya berdasarkan penerawangan alam ghaib. Jadi gak usah dipercaya.

Aura positif di awal Juni ini yang merupakan Hari Lahir Pancasila (1/6), sepertinya semakin membuat blingsatan makhluk-makhluk yang bukan rahasia lagi anti terhadap Pancasila. Ada kok ini. Nyata. Bahkan sel-sel tidur kelompok ini berniat mengganti Pancasila dengan khilafah atau apalah yang mereka anggap ajaran agama (Islam). Salah ngaji mereka….

Kelompok-kelompok jenis ini pun sudah terang benderang mendukung salah satu politikus yang berhasil merebut kursi kekuasaan dengan memainkan politik identitas yang sangat kental. Ayat dan mayat jadi bahan kampanye. Yak, siapa lagi dia selain “governor” (baca: gabener, red.) Jakarta.

Maksud hati ajang balapan mobil listrik Formula E jadi milestone penting bagi dirinya untuk menuju pada ambisi nyapres, namun sayangnya begitu banyak kecacatan penyelenggaraan yang tak bisa ditutupi dengan glorifikasi “bajer balkot.”

Baca: Tiket Kategori Ancol Festival untuk Formula E Ternyata Nontonnya Bukan di dalam Sirkuit

Dan belum nanti soal pertanggungjawaban yang juga terang benderang penyimpangannya. Gamblang di media. Publik pun sudah melototin.

Baca: Selap-selip Anies di Anggaran Formula E, APBD Belum Disahkan, Duit Sudah Ngucur Keluar

Kegagalan bajer balkot membuat ajang FE menjadi viral dan trending mendunia, membuat para “cacing kremi” itu kepanasan hingga harus memviralkan hal yang mengada-ada.

Rendang Babi jadi sasaran….

Namun sebelumnya, salah satu kelompok sel terafiliasi terorisme yaitu Khilfatul Muslimin makin nekat dengan berani terang-terangan konvoi mempropagandakan khilafah di berbagai daerah. Video-video mereka viral. Netijen jengah. Pak pulisi pun bergerak menyerok pentolan-pentolannya. Dan ternyata terkuak ormas tersebut memiliki dana miliaran, ada yang berasal dari asing, dan memiliki atau berafiliasi dengan puluhan sekolah/madrasah/pesantren tempat mereka mendoktrin atau cuci otak anak-anak soal khilafah. Tujuannya mengganti Pancasila.

Baca: Terkuak, Khalifatul Muslimin Punya 30 Sekolah

Kelompok ini keluar makin gerah mungkin karena melihat masyarakat justru semakin bergairah membela/mempertahankan Pancasila.

Momen Hari Lahir Pancasila yang dijadikan tanggal merah oleh Jokowi amatlah tepat, hingga bangsa ini selalu sadar akan jatidirinya.

Dengan berita ramai penangkapan-penangkapan gembong Khilafatul Muslimin, kelompok pengasong khilafah lainnya –eks FPI, HTI, NII, PA 212, dan sejenisnya– pun tak bersuara.

Sampai akhirnya iseng banget maksain isu rendang babi yang sempat bikin gaduh sejenak.

Kurang kerjaan.

Satu contoh kurang kerjaan ya ini, wakilnya gabener bikin agenda “sidak rumah makan Padang”. Ngapain?

Ya nyari daging babi….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here