Najwa Merasa Bintang

Penulis: Sahat Siagian

16 Kata

Di belakang seorang artis besar selalu ada seseorang, yang sebetulnya lebih besar daripada sang artis.

Orang tersebut bisa sutradara, bisa produser, bisa vocal produser, bisa business manager, bisa macam-macam. Pendeknya, ia seseorang yang ke pundaknya sang artis menaruh kepala.

Ia disegani, dipatuhi. Ketika mengancam bakal minggat kalau permintaannya tak dipenuhi, sang artis keder. Tapi ia juga tahu, tanpa sang artis seluruh kelebihannya cuma sebatas buku petunjuk.

Itu yang tidak dipunyai Najwa Sihab. Dalam tim yang mengawalnya, Najwa adalah penentu. Dia sang artis sekaligus produser sekaligus sutradara, sekaligus macam-macam. Repot.

Gak usah heran kalau wawancara imajiner kampungan berlangsung sekian hari lalu. Siapa yang berani bilang “tidak” kepadanya?

Wawancara imajiner sebetulnya bukan barang asing di jagad sastra. Gak pernah di jagad berita. Seorang penulis menggunakan gaya ini untuk membuat artikelnya lebih personal. Christianto Wibisono salah satunya. Ia kerap “memasang” Bung Karno sebagai tokoh..

Dalam sastra Kristen, Yesus juga sering digunakan sebagai Sang tokoh. Entah diwawancarai wartawan, entah bertemu dalam mimpi, si penulis bermaksud menjadikan pesan yang dikumandangkan setara dan seberwibawa ucapan Yesus. Artinya, si penulis membonceng kebesaran Sang tokoh. Selalu begitu.

Yang dilakukan Najwa Shihab dalam wawancara dengan kursi kosong sebaliknya. Selain karena dr. Terawan masih hidup, pertanyaan yang dikemukakan juga bermaksud melukai Menteri Kesehatan. Itu penghinaan luar biasa.

Dan itu memang penyakit Najwa. Ia selalu merasa lebih besar sehingga karenanya merasa lebih berkuasa daripada tokoh yang diwawancarai. Moda bertingkat dalam satu pertanyaan sering ia lontar untuk mengurung si tokoh.

Najwa tak paham perbedaan besar antara wawancara dengan interogasi. Sebuah wawancara bermaksud mengemukakan tanggapan atau tinjauan atas sebuah masalah dari perspektif orang yang diwawancarai.

Wawancara juga bertujuan untuk mengenal interviewee lebih dalam dan lebih luas. Karenanya, satu prasyarat harus dipenuhi oleh interviewer sebelum wawancara berlangsung: membuat orang atau tokoh yang dihadirkan bersikap senyaman mungkin.

Pertanyaan yang nyaman, kata banyak pelatihan-lanjutan di Amerika Serikat dan Eropa, tidak boleh melebih 16 kata. Kenapa 16 kata? Itu saya jelaskan lain kali. Selain untuk menjaga konsentrasi si interviewee, 16 kata juga jadi pembatas agar moda bertingkat tidak hadir dalam satu pertanyaan.

Contohnya begini.

Tokoh yang Anda wawancarai biasa bangun pada jam setengah enam pagi untuk jogging. Tapi pada hari itu dia bertemu dengan Anna pada pk. 04:30. Anda merasa bahwa itu ganjil. Dan keganjilan adalah nama lain bagi penyimpangan. Untuk itu, Anda sangat tidak dianjurkan menanyakannya seperti berikut ini:

“Biasanya Anda bangun jam setengah enam pagi. Tapi kenapa pada hari itu Anda bertemu Bu Anna pada pukul empat tiga puluh?”

Hitunglah, itu pertanyaan 20 kata. Dan lihatlah, ada moda bertingkat di sana: ‘biasanya jam setengah enam, hari itu jam setengah lima’.

Lagipula, darimana Anda tahu bahwa si tokoh selalu bangun pk 5.30 pagi? Darimana juga Anda tahu bahwa hari itu dia bangun pada pk 04:30?

Mungkin Anda mendapatkannya dari pemberitaan di media lain. Tapi ingatlah selalu, kata guru saya, itu fakta asing karena Anda peroleh dari tempat lain, bukan dari si terwawancara langsung. Barang asing selalu merusak keintiman.

Dengan moda bertingkat, si interviewee segera merasa bahwa Anda, sebagai pewawancara, sudah memiliki syak kepada dirinya. Jika itu bukan interogasi–yang memang dengan sengaja bertujuan untuk membuat interviewee tidaknyaman setidaknyamannya, Anda telah membuatnya gelisah.

Kualitas jawaban seperti apa yang Anda harapkan muncul dari sebuah kegelisahan? Ingat, Anda tidak sedang mengadilinya.

Selain menghadirkan ketidaknyamanan, moda bertingkat juga mengganggu konsentrasi, membuat interviewee harus memberi perhatian lebih kepada pertanyaan Anda.

Kalau saya, pertanyaan atas kondisi seperti di atas akan saya hadirkan dalam pertanyaan bertingkat, bukan moda bertingkat.

+ Jam berapa biasanya Anda bangun pagi?
– Jam setengah enam.
+ jam berapa Anda bertemu Bu Anna pada hari itu?
– Jam setengah lima.
+ Kenapa?

Dalam konteks talkshow, pertanyaan bertingkat selalu membangun ketegangan. Apalagi ditutup dengan pertanyaan satu kata: kenapa?

Pertanyaan bertingkat, yang dijaga dalam tempo nyaman, membuat terwawancara tidak perlu mengerahkan konsentrasi lebih. Percakapan menjadi lebih lancar dan mengalir.

Ingatlah selalu, di setiap talkshow, terwawancara adalah bintang; Pewawancara adalah pelayan. Interviewer selalu harus bermaksud agar pemirsa dapat mengenal interviewee berikut pikirannya lebih jauh dan lebih dalam. Tanpa memenuhi prasayarat itu, interviewer adalah penindas.

Apa yang terjadi dengan Najwa? Dia merasa dirinya bintang. Mau bukti? Perhatikan gerak tubuh Najwa dalam acaranya. Tangan kanannya selalu bergerak di udara dengan bolpen di tangan. Hitunglah berapa kali dia memajukan bahu dan memundurkannya lagi dengan dua tangan memegang meja. Dia bergerak lebih aktif daripada terwawancara. Baginya, tamu adalah anak tangga yang diinjak bagi pendakian popularitas.

Saya sudah lama eneg sama perempuan satu ini. Beberapa kali saya komentari dia melalui tulisan atau memes. Tapi Anda gak peduli. Akibatnya Najwa besar kepala. Gak usah kaget kalau dia disemprot LBP.

Barang rongsokan cuma laku di tengah orang-orang tolol.

__________________

Tulisan ini berasal dari laman akun FB Sahat Siagian, red.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here