Pengalaman Llia Salsabila Terkena Covid-19 dan Berjuang untuk Sembuh

Llia Salsabila. Sumber foto: akun twitter @salsabeela

Pendiri NulisBuku.com Aulia Salsabila atau sebelumnya dikenal dengan nama Ollie (kini ia lebih senang menggunakan nama Llia) berbagi pengalamannya saat terkena covid-19 belum lama ini. Enterpreneur perempuan di bidang teknologi dan penulisan ini, menuliskan kesaksiannya dalam menghadapi covid-19 di medium.com.

Simak penuturannya.

____________________

Saya adalah salah satu penyintas Covid-19.

Awalnya housemate saya Sisi, batuk-batuk yang kami anggap flu biasa. Dari sini, kami sendiri tidak pernah berdiri terlalu dekat, dan saat duduk berhadapan pun selalu di meja makan kami yang semi outdoor. Saya nggak terlalu cemas, karena saya merasa kondisi tubuh saya sedang baik dan seharusnya imun tubuh saya juga cukup kuat.

By the way, akan saya sampaikan sekarang, saya menjalani hidup di Bali dengan santai dan bahagia, dalam arti, saya tidak sedang dalam kondisi ketakutan akan situasi dan tidak stress, bisa dibilang saya cukup positive thinking selalu. Tapi, saya bisa tetap kena Covid-19 karena datangnya dari virus luar dan mempengaruhi tubuh saya lebih hebat karena imunitas saya mungkin sedang menurun karena berbagai hal. Jadi, nggak peduli kamu alim, rajin ibadah, selalu happy, kalau memang imunitas sedang menurun dan sedang ada virus di sekitar kamu, maka kamu tetap bisa merasakan gejala sakit. Dan efek yang ditimbulkan oleh Covid-19 di tubuh kita, bukan gejala biasa yang bisa dianggap enteng.

Begitu saya merasa nggak enak badan dan sakit tenggorokan 2 hari kemudian, saya tau saya tertular. Kami masih santai karena berpikir ini flu biasa.

Kepanikan melanda saat indera penciuman Sisi mulai tidak berfungsi. Sisi juga mulai demam. Kami memutuskan untuk test PCR.

(Penulis kemudian melakukan swab test mandiri di sebuah klinik, red.)

Swab test sakit nggak? Sakit tapi cuma sebentar. Dan super nggak nyaman, tapi perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi saya.

Tiga hari kemudian saya dapat pesan via whatsapp dari klinik dengan pdf hasil test yang menyatakan bahwa saya positif Covid-19. Saya langsung trace back sekitar 5 hari ke belakang siapa saja yang bertemu dengan saya dan saya infokan agar mereka bisa self-quarantine atau swab test untuk mengetahui kondisi mereka. Alhamdulillah, semuanya baik dan sehat wal’afiat. Saya sendiri memutuskan untuk karantina mandiri di rumah saja.

Saya mulai demam di hari ke-3. Demamnya tidak pernah terlalu tinggi, di angka 37–38 derajat celcius, tapi berlangsung terus menerus selama 9 hari. Fungsi indera penciuman dan pengecapan saya mulai hilang (anosmia) di hari ke-4. Apapun yang dimakan jadi nggak berasa, dan kalau sudah begini, nafsu makan pasti menghilang. Some food that helps untuk enak dimakan: salad, buah, sup. Selain itu, agak sulit ditelan.

Saya baru paham kenapa Covid-19 ini ‘berbeda’ dari virus-virus lain sepanjang hidup saya. Covid-19 virus baru yang efeknya berbeda-beda pada tiap orang tergantung imunitasnya, dan kebanyakan cerita yang kita dengar adalah yang fatal, terutama masalah sesak napas. Ketidakpastian ini yang mengerikan, karena setiap hari, saya tidak tahu apakah malam ini saya akan ‘aman’ atau berpotensi memburuk.

Covid-19 adalah penyakit yang menguras fisik dan mental kita. Secara fisik, kita harus beradu stamina dengan si virus. Yang saya alami, demam selama 9 hari itu sangat melelahkan, saya sudah hampir menyerah dan pergi ke RS karena lemas. Bahkan mau minum saja sepertinya tidak ada tenaga. Tapi kemudian kembali merasa helpless karena ke RS juga belum tentu bisa membantu karena kemungkinan kapasitas penuh dan tenaga medis overwhelmed itu ada. Yang saya syukuri, saya tidak batuk dan juga tidak mengalami masalah pernapasan selama sakit.

Selain fisik, secara mental juga sangat terkuras. Karena selama sakit, kita tidak bisa dirawat oleh siapa-siapa, karena kondisi kita sangat menular. Jadi bayangkan, sedang sakit yang kemungkinan mengancam nyawa, masih harus mengurus semuanya sendiri termasuk beli atau memasak makan dan beli vitamin atau obat-obatan. Itu juga kalau bisa dibeli online, kalau nggak bisa, sangat repot untuk yang tinggal sendiri karena tidak bisa minta tolong siapa pun untuk membeli.

Setelah 9 hari demam, atas saran sepupu saya yang berkonsultasi dengan dokter, saya minum antibiotik. Malamnya, saya berkeringat sampai harus ganti baju 5 kali.

Syukur, di hari ke-10 demam saya turun dan penciuman saya pelahan-lahan kembali.

Hal pertama yang bisa saya cium adalah bau minyak kayu putih. That’s the best minyak kayu putih I ever smell! Kemudian pelan-pelan saya mulai bisa mencium bau coconut shampoo saya saat sedang mandi, dan bisa mencium harum pelembut dari baju yang baru saya laundry. Sangat bersyukur sekali dengan hal yang biasanya saya take for granted.

Selama sakit, saya bed rest dan menghindari berpikir terlalu berat untuk membiarkan energi total tubuh difokuskan untuk penyembuhan. Jadi, untuk memaksimalkan mindlessness, selama 2 minggu, saya nonton series-nya keluarga Kardashian di Netflix sampai hapal kisah hidup mereka dari perawan sampai punya anak :))

Begitu demam turun dan anosmia sembuh, saya tetap istirahat. Baru di hari ke-16, saya agak aktif karena harus jadi pembicara di sebuah event online dan juga perlu menghadiri meeting. Ternyata ngomong selama 2 jam saat itu membuat saya kewalahan. Saya merasa napas agak ngos-ngosan dan kehilangan konsentrasi, kadang saya bingung apa yang harus saya katakan selanjutnya, atau sudah tau apa yang mau diomongin, tapi stuck nggak keluar jadi kata-kata. Saya baru sadar kalau Covid-19 masih meninggalkan bekas-bekas di tubuh saya.

Ketika saya merasa agak ngos-ngosan, saya googling sana sini dan baca banyak hal di media sosial. Rata-rata pada ngomongin soal Happy Hipoxia yang bisa bikin mati mendadak. Saya langsung kena panic attack. Napas saya jadi pendek-pendek dan sangat takut kalau saya sesak napas dan saturasi oksigen saya turun. Untuk menekan ketakutan saya, saya segera ke klinik Hydro Medical untuk mengukur saturasi oksigen dan tekanan darah, ternyata semuanya bagus dan normal. Saya langsung lega dan sembuh seketika :)) Inilah yang namanya psikosomatis 😁 So, please kalau lagi sakit jangan liat-liat media sosial, bisa tambah sakit :))

Hari ke-18, saya merasa ada yang nggak beres. Sudah seminggu saya merasa sembuh dari covid, namun hari ini mendadak saya merasa kedinginan dan agak menggigil (chills). Tiap kali ini menyerang secara acak dalam sehari, saya akan merasa lemah, capek dan kehilangan kemampuan untuk konsentrasi. Sangat sulit untuk menjadi produktif. Ini terus berlanjut selama berhari-hari, dan saya mulai mengenal istilah Long Covid.

Kebanyakan orang-orang yang sembuh dari Covid-19, masih membawa beberapa symptoms lanjutan dalam berbagai bentuk. Saya sempat sangat stress membaca berita-berita soal Long Covid yang konon bisa berbulan-bulan, bahkan permanen. Tiap hari merasa sakit selama berminggu-minggu itu sangat melelahkan! Merebus jahe, kencur, sereh, minum vitamin, pake minyak kayu putih tiap hari selama sebulan itu melelahkan! :))

Jika ada yang saya pelajari dari pengalaman ini, saya merasa jauh lebih sabar, sabar menghadapi sakitnya dan sabar saat menerima proses penyembuhan. Jika sakitnya sedang menyerang, saya diam saja sambil memperhatikan dan merasakan sakitnya sepenuhnya dan biasanya sakitnya akan hilang begitu saja seperti mengalir keluar dari tubuh saya.

Saya sabar, tapi juga tidak berhenti berusaha. Untuk membantu tubuh saya, saya mulai memperbaiki pola makan saya dengan bantuan nutrition coach, banyak makan sayur dan buah, banyak minum air putih dengan target pipis 8 kali sehari, dan minum berbagai macam vitamin dan herbal yang bisa membantu untuk meningkatkan imunitas saya.

Alhamdulillah tepat di hari ke-30 sejak saya sakit, saya tidak punya keluhan ’sisa covid’ yang mengganggu lagi.

Saya juga melakukan ‘stress test’ di fisik dan mental saya, mulai dari aktif manjat-manjat, hingga menjadi pembicara sebuah webinar dengan topik yang sulit selama 2 jam. Saya tidak merasakan ada yang aneh, saya merasa telah kembali normal. I feel like myself again!

Sekarang setelah sembuh, apakah saya akan test PCR lagi? Tidak. Karena menurut referensi terpercaya yang saya baca, saya sudah tidak menular sejak hari ke-14 dan karena test PCR jumlahnya terbatas, lebih baik orang lain yang lebih memerlukan yang menggunakannya.

Apakah saya akan menggunakan masker kain? Tidak. Sekarang saya hanya akan menggunakan surgical mask yang secara ilmiah lebih efektif dalam menghadang virus.

Apakah harus takut dengan Covid-19 sampai harus mengurung diri terus-terusan di kamar tanpa melihat matahari? Kayaknya nggak perlu gini juga. Be mindful and check your own personal wisdom when you decide what to do, but don’t be afraid. Tergantung situasi kalian. Kalau tinggal sendirian, kalian bisa pakai masker surgical, selalu jaga jarak lumayan jauh dari seseorang, sebisanya berada di outdoor jika harus keluar rumah dan gunakan hand sanitizer. Saya setiap hari pergi ke pantai, favorite saya di pagi hari saat tidak terlalu banyak orang dan matahari paling sehat untuk diserap. Saya juga sekarang kalau harus naik mobil, akan memilih membuka jendela untuk sirkulasi.

Obat, vitamin, suplemen yang saya gunakan selama sakit untuk meningkatkan imunitas bisa saya share di online webinar segera jika banyak yang tertarik untuk mengetahuinya, terutama untuk yang sedang sakit atau kerabatnya ada yang sedang sakit. Tidak saya share ke publik karena kebutuhan orang berbeda-beda, menghindari panic buying yang tidak perlu dan saya juga bukan dokter 😀

Kalau ada pertanyaan email saya ke auliah5@gmail.com atau DM on instagram @salsabeela

Stay healthy!

_____________

Penulis adalah pendiri CMO Storial.Co NulisBuku.com. Co-Managing Director Girls in Tech Indonesia. Initiator StartupLokal. Telah menulis 30 karya buku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here