Oom Olle

Penulis: Roger “Joy” P. Silalahi

#Bagian Pertama (dari dua)

“Buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya…”
-Rudolf W. Matindas-

Palembang, tepat 71 tahun yang lalu, Ir. Rudolf Wennemar Matindas MSc. mulai mengisi dunia ini untuk menularkan kepintaran, kecerdasan, dan kebijaksanaannya bagi sekitarnya dan semua orang yang diberi kesempatan mengenalnya.

Dipanggil Olle (panggilan kesayangan), Oom saya ini berposisi sebagai anak keempat dari 7 bersaudara, mempunyai paras yang tampan dan sangat mirip adik bungsunya. Hidup nomaden, berpindah-pindah mengikuti lokasi dinas Opa yang Angkatan Darat membuatnya mengenal banyak budaya di Indonesia dan mencintainya.

Pada saat Opa dipindahkan dari Makassar ke Jakarta, Oom Olle kelas 2 SMA. Sampai Jakarta ikut test masuk Canicius College (CC) dan berhasil masuk CC. Setelah lulus SMA, Oom Olle diterima di Geodesi ITB, masuk sebagai angkatan 1972.

Oom Olle termasuk bersinar di Geodesi ITB, sehingga mendapat bea siswa dengan ikatan dinas dari Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional), sekarang namanya BIG (Badan Informasi Geospasial), dan ketika lulus langsung bekerja di sana. Selama kuliah di Bandung, Oom Olle tinggal bersama kita di kampung “Kebon Gedang”, kamarnya terpisah dari rumah kita, yakni di lantai 2, semacam paviliun kecil yang dibuat khusus untuk Oom Olle oleh Opa. Karena itu kedekatan emosional kami dengan Oom Olle sangat kuat. Kamilah yang paling banyak menikmati punya Oom Olle di dekat kami dibandingkan keponakannya yang lain.

Karena kami menikmati cerita sebelum tidur dari Mama, kami pun suka minta Oom Olle cerita untuk kami saat beliau sudah pulang kuliah atau akan pergi keluar rumah setelah kuliah. Berbeda dari Mama, Oom Olle hanya punya 2 jenis cerita, 1 khusus kalau pulang kuliah dan tidak ke mana-mana lagi, saya sebut cerita A (asal), dan satu lagi khusus kalau masih harus kembali ke kampus lagi, saya sebut cerita B (buru-buru).

Cerita A:
Waktu dulu, waktu kodok masih berbulu, ada satu Ibu kodok yang bercerita kepada anak-anaknya…, waktu dulu, waktu gajah belum berbelalai, ada satu Ibu gajah yang bercerita pada anak-anaknya…, waktu dulu, waktu….
Ini bisa berlanjut sampai berapapun jenis binatangnya, dan anehnya kami mau saja mendengarkan cerita ini berulang-ulang kali.

Cerita B:
Ada seekor kodok yang melompat di pinggir kali, lalu datang seekor ular. Kodok lompat ke kali dan ular pun melompat ke kali. Lalu kodok menyelam dan ular juga menyelam…
Nah, nanti kalau mereka sudah muncul ke permukaan Oom Olle lanjutkan ceritanya ya… Sekarang Oom Olle musti pergi ke kampus… Keponakan hanya bisa tarik nafas panjang sambil bilang; “Yaaahhh….”

Setiap malam, sebelum tidur, 5 orang keponakannya di Bandung waktu itu antri, naik ke atas, mengucapkan “Selamat tidur Oom Olle”, cium pipi kiri, cium pipi kanan, lalu turun ke bawah dan tidur. Hal ini rupanya menjadi salah satu kenangan paling manis di Bandung yang diceritakan Oom Olle ke Tante Rini, istrinya. Cerita kodok berbulu dan kodok menyelam pun sama, terkenang oleh semua keponakannya. Demikianlah Oom Olle tinggal bersama kami sampai lulus dari ITB pada tahun 1977.

Tidak satupun orang hidup tanpa masalah, demikian juga Oom Olle, ada banyak sekali masalah yang dihadapinya, dari masalah kecil sampai masalah besar, tapi tidak satupun pernah diceritakannya pada siapapun. Bukan karena tidak mau menceritakan masalahnya, tapi karena tidak pernah melihat masalah sebagai masalah.

“Masalah itu hanya bikin susah, tapi kita dari dulu kan sudah diajarkan lagu, buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya…”, demikian pesan Oom Olle pada semua orang. Menjadi pribadi yang ceria dan selalu tersenyum atau tertawa dan hanya membagikan sukacita untuk sekitarnya, itulah perwujudan falsafah hidup yang dipegangnya, “Nrimo…”.

Bekerja di badan pemerintah waktu dulu itu ada kewajiban untuk mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Maka pergilah Oom Olle penataran pada tahun 1978. Penataran P4 itu penting, dan kesempatan inilah Oom Olle membuktikan salah satu fungsi dari penataran P4 bagi pesertanya. Oom Olle bertemu Krishnarini karyawan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), lulusan Publisistik (sekarang Komunikasi) FISIP UI angkatan 1972, yang akhirnya menjadi istrinya setelah berpacaran selama 2 tahun. Tampan, pintar, cerdik (mengakali keponakannya), tidak pernah susah, pekerja keras, tidak heran dapatnya perempuan cantik, pintar, selalu tersenyum, luar biasa lembut, dan tidak pernah mengeluh.

Oom Olle dan Tante Rini menikah tanggal 14 Oktober 1980, resepsi di Wisma Iskandarsyah 19 Oktober 1980, dan tinggal di Kedung Halang Talang, Bogor. Tidak lama setelah menikah, Oom Olle memperoleh beasiswa untuk S2 di Ohio State University dan lulus menyandang gelar Master of Science di bidang Geodesi.

Perjalanan hidup Oom Olle yang terlihat seolah tanpa gejolak dan terus menanjak, sampai akhir hayatnya, meninggalkan banyak cerita cerdas mengenai bagaimana menghadapi dan menyikapi kehidupan. Besok di bagian kedua, akan saya ceritakan 2 buah kata bijak peninggalan beliau, yang beliau kemas dengan sangat lucu tapi menancap dalam di benak banyak orang.

Besok ya… Baca di sini: Oom Boss: Sepandai-pandai Tupai Melompat, Akhirnya Pandai Juga

Tidak mengeluh, menjalani segala hal sebagai sebuah kebaikan, menyikapi segala hal sebagai kebaikan, dan meindaklanjuti segala hal dengan kebaikan. Seandainya semua orang Indonesia menganut falsafah “Nrimo” yang lebih dikenal sebagai falsafah Jawa ini, tentulah Indonesia akan menjadi lebih baik.

Oom Olle, orang Indonesia… Kamu…?

-Roger Paulus Silalahi-

 

Artikel ini merupakan seri tulisan “Seberapa Indonesia Kamu?”

Baca tulisan lainnya:

Keluar!!!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here