Andy Yentriyani Jabat Ketua Komnas Perempuan Periode 2020-2024

SintesaNews.com – Banyak tawa dan canda saat kami mengobrol di sebuah cafe di kawasan Menteng dengan perempuan keturunan Tionghoa asal Kalimantan Barat ini. Andy Yentriyani, yang baru saja terpilih sebagai Ketua Komnas Perempuan. Jangan bayangkan bahwa obrolan kami berlangsung serius selalu membahas tentang ketidakadilan yang kerap diterima perempuan marjinal. Sore itu di cafe, kita memang tengah melepas penat sejenak dari rutinitas harian.

Obrolan kami lebih banyak ngalor ngidul ke mana-mana dibanding diskusi serius. Meski begitu, jangan ragukan sosok Andy ini dalam urusan perjuangannya membela kaum perempuan. Isi kepala, hati dan kinerjanya luar biasa hingga tak heran lagi kini ia menampuk posisi Ketua Komnas Perempuan.

“Ada dua hal yang mendasari ketertarikan saya terhadap dunia perempuan. Pertama, Tragedi Mei 1998, di mana isu kekerasan seksual menjadi salah satu pokok masalah pada saat itu. Kedua, saat saya harus kehilangan teman-teman saya di usia muda saat saya masih menetap di Pontianak. Saat anak-anak SMP lain memikirkan cita-cita, banyak teman  saya yang mau tidak mau harus menikah di usia belia,” tutur Andy yang pernah dikutip sebuah media online.

Sejak menyelesaikan studinya di Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Indonesia (UI), Andy selalu fokus pada tujuannya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia yang kerap terampas dalam hidupnya.

Usai menyelesaikan S1-nya di UI, Andy melanjutkan program Magister di Goldsmith College, University of London untuk bidang Media and Communications.

Puluhan riset telah ia lakukan baik di dalam dan luar negeri. Sempat menjadi dosen di UI mengajar Gender dan Hubungan Internasional, juga sempat memimpin berbagai organisasi di bidang perjuangan kaum perempuan, seperti Koordinator Asia Pacific Alliance on Women, Peace and Security (2014 – 2018), Ketua Yayasan SAKA (Suar Asa Khatulistiwa), Ketua Umum Perkumpulan Bestari, Pengawas Aliansi Nusantara Bhinneka Tunggal IKA (ANBTI), dan tentu saja sebagai Komisioner di Komnas Perempuan sejak 2010.

Tumbuh kembang di Kampung Sungai Asam, Pontianak, Andy saat akhir perkuliahannya di UI, menuliskan skripsi soal trafficking yang kerap terjadi di kampung halamannya.

“Teman-teman saya di Pontianak yang beretnis Tionghoa banyak yang harus pasrah dinikahkan dengan warga Taiwan dan menetap di sana. Melalui pernikahan transnasional tersebut, sebagian besar berujung ke kasus trafficking,” ceritanya.

Tak ayal Andy pun menelurkan buku “Politik Perdagangan Perempuan” pada tahun 2004.

Beberapa karya lainnya untuk konsumsi internasional adalah artikel Overview of 8 Years Implementation of Anti Domestic Violence Law in Indonesia: Its Success and Challenges, (German ed.); Gewalt gegen Frauen in Südostasien und China, Regiospectra Verlag Berlin; Auflage, dan “Pursue Luck or Ill Fate? Trafficking in Women through Indonesia-Taiwan Transnational Marriages in the World Systems Framework, “Indonesian Women in a Changing Society”.

Selamat bertugas Andy Yentriyani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here