Politik Pencitraan Kaum Radikal Senjata Makan Tuan

Ilustrasi: Alsi demo anti Ahok di DKI Jakarta, April 2017. Foto: (Goh Chai Hin/AFP via Getty Images)

Penulis: Ayik Heriansyah

Kejujuran dan politik pencitraan saling bertolak belakang, sama dengan bertolakbelakangnya antara dakwah dengan propaganda. Kejujuran adalah dasar dari dakwah, sedangkan pencitraan merupakan prinsip dari suatu propaganda.

Jika kelompok radikal jujur dalam dakwahnya, ingin mengajak diri, keluarga dan orang lain ke jalan Allah swt, rasanya tak perlu melakukan politik pencitraan, membunuh karakter orang yang bersebarangan dan menyanjung-nyanjung tokoh yang sehaluan.

Politik pencitraan merupakan salah satu metode dalam propaganda. Sedangkan hakikat dari propaganda adalah menyebarkan kebohongan (hoaks, fake news, rumor, isu) secara berulang-ulang sampai disangka benar oleh publik.

Jika kelompok radikal jujur dalam dakwahnya, mereka cukup menjalankan apa yang dibebankan oleh syariat atas diri mereka dengan ikhlas, benar dan istiqamah. Dari sana nanti akan lahir aura kesalihan yang memancar dan menerangi hati orang lain. Pancaran ruhani yang menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Inilah karamah anugrah dari Allah swt atas keistiqamahan dalam beramal.

Diantara indikator kejujuran seorang pendakwah, dia menyibukkan diri dengan beban-beban syariat yang ada dipundaknya, ketimbang membahas amal orang lain. Dia lebih memperhatikan dosa dan aib dirinya, ketimbang membicarakan dosa dan aib orang lain, termasuk penguasa.

Namun, hal seperti itu yang tidak dimiliki oleh kelompok radikal. Mereka menutupi dusta dengan menghabiskan energi membuat pencitraan bahwa kelompok mereka lah yang paling layak diikuti, karena paling syar’i dan paling sesuai dengan sunnah Nabi. Sibuk membahasa dosa dan aib tokoh-tokoh yang berseberangan, sambil membuat cerita palsu tentang kesalihan tokoh-tokoh mereka.

Dakwah Islam yang sesungguhnya adalah jalan yang bersih. Jalan yang dirintis oleh para Nabi, orang-orang suci yang dibimbing langsung oleh Allah swt. Sebab itu, jalan dakwah senantiasa terjaga dari kelompok radikal yang memanipulasi agama demi ambisi politik yang kotor.

Satu per satu, tokoh kelompok radikal dibuka Allah swt dosa dan aibnya. Publik jadi tahu dan tersadarkan, bahwa ternyata mereka menyimpan hasrat jahat di balik “dakwahnya”. Per lahan tapi pasti, publik mulai menjauh dari para manipulator agama itu. Publik sadar, mereka bukan saja tidak pantas diikuti, tapi juga akan membawa mudharat bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Di era terbuka seperti sekarang, memang kelompok radikal mudah membuat dan menyebarkan hoaks dan fake news, demi memanipulasi persepsi dan opini publik. Akan tetapi publik juga bisa dengan mudah membongkarnya. Pembuat hoaks dan fake news, pasti akan diketahui publik. Setelah itu, jatuhlah martabatnya ditinggal umat dan jamaah untuk selamanya.

 

Penulis adalah Pengurus LD PWNU Jabar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here