Siska, Kisah Nelangsa Pahlawan Bangsa

Penulis: Pande K. Trimayuni

Rabu, 13 Mei 2020 malam. Saya cek Akun Facebook yang sebenarnya saya tidak begitu aktifkan. Tiba-tiba ingin klik kotak pesan. Wah, ternyata ada yang kirim undangan menjadi narasumber. Untung dicek. Saya malas cek pesan FB karena dulu sempat dapat pesan-pesan aneh dari orang asing yang tidak dikenal. Baru ngeh, banyak sekali pesan penting yang tidak terbaca.

Salah satu pesan penting itu datang dari Siska. Seseorang yang mengembalikan kenangan 17 tahun silam. Siska mengirim pesan 12 Mei 2019. Berarti pas setahunnya saya baru baca. Ajaib juga.

Saya mengenal Siska di Kuala Lumpur. Saat itu kebetulan saya bersama seorang teman, Ibu Titik yang merupakan peneliti dari Indonesia juga, sedang berkunjung ke penampungan TKI milik Kedutaan Indonesia di sana. Siska adalah seorang pekerja migran yang sudah beberapa tahun menghuni penampungan. Saya duga usianya di bawah 20 tahun saat itu. Siska tidak bisa dipulangkan karena dia mengidap gangguan jiwa. Dia selalu menyendiri. Tenggelam dalam dunia yang hanya dia bisa pahami.

Saya terus memikirkannya. Kasihan sekali, usianya masih sangat muda tetapi hidup sudah menempanya sangat keras. Teman-teman seusianya pasti sedang menikmati masa remaja. Dia sudah bekerja di negeri orang. Entah apa yang dia alami sampai menjadi demikian.

Saya berpikir untuk menolongnya. Saat bicara dengan Ibu Titik, beliau juga ternyata berpikir yang sama, apa yang bisa kita lakukan untuk Siska. Masa dia harus bertahun-tahun terlunta di negeri orang? Bagaimana dengan keluarganya? Bisakah kita membantu kepulangan Siska ke Indonesia? Bagaimana caranya? Apa resikonya?

Akhirnya keputusan besar itu kami ambil. Kami berdua yang akan membawa Siska pulang. Kami membuat rencana dan perhitungan. Kami berkoordinasi dengan Kedutaan. Kedutaan membantu memastikan Siska aman kami bawa pulang.

Kami juga berusaha pendekatan dan menjadi kawan buat Siska. Saya sempatkan selalu bicara dengannya, semangatkan bahwa dia akan pulang ke Indonesia. Saya katakan padanya, “Siska, saya ingin membantu kamu balik ke Indonesia. Pulang kampung. Kita naik pesawat sama-sama. Saya akan jaga kamu, tetapi kamu harus janji nurut kata-kata saya. Di pesawat nanti kamu harus tenang. Jika tidak kita bisa kena masalah. Kamu janji ya.”

Terkadang Siska menampakkan raut sedih. Dia tidak agresif terhadap saya dan Ibu Titik. Tetapi tetap sulit diajak bicara. Namun saya percaya, meskipun pikirannya mungkin tidak bisa mencerna omongan saya, hati dan jiwanya pasti bisa mendengar. Sampai suatu titik, kami yakin Siska bisa diajak bekerjasama. Kondisinya relatif stabil. Kami membawanya pulang ke Indonesia. Siska menepati janji. Dia tenang dan menurut sampai kami tiba di Indonesia. Lega kami akhirnya dia bisa berkumpul bersama keluarganya.

Tujuh belas tahun berlalu. Dan Siska menghubungi saya lewat Facebook! Dia menulis, “Mbak Pande…, saya Siska dari Semarang. Apa benar Mbak Pande ini orang yang dulu nolong saya, waktu saya pulang jadi TKI Malaysia?”

Dia sertakan dua photo. Satu photo berkerudung dengan menggendong anak. Satu photo lagi tanpa kerudung. Mungkin maksudnya agar saya bisa menngenalinya.Saya cek status dan photo-photo dalam akun Facebooknya. Ada photo-photo dia lagi di rumah, di mobil dan sedang jalan-jalan di Monas bersama suami dan anaknya. Anaknya nampak sehat dan bahagia. Wajah suaminya seperti orang Korea.

Saya merasa sangat terharu. Syukurlah, dia nampak cukup sejahtera.

Saya menghubunginya lewat HP. Suaranya terdengar girang. Dia katakan sudah lama selalu ingin bertemu saya dan Ibu Titik. Dia cari-cari, katanya.

Surprisenya, dia masih ingat nama saya dan Ibu Titik. Saya penasaran. Saya tanya dia, “Hebat kamu masih ingat nama saya”. Dia jawab, “Saya tidak mungkin lupa. Nama Mbak selalu ada dalam pikiran saya”.

Syukurlah berarti benar keyakinan saya pada waktu itu. Dia menyerap semua kata-kata saya meskipun tidak merespon.

Saat saya sedang mengetik ini, masuk pesan dari Siska. Katanya, “Mbak Pande, waktu Mbak Pande menolong saya itu pas Bulan Puasa. Sekarang kita bertemu lagi Bulan Puasa.”

Oya…, saya malah lupa. Teringat kemudian, dia menemukan saya di Facebook tahun 2019 lalu pas Bulan Ramadhan juga. Terimakasih Tuhan. Berkah buat saya dan Siska.

*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here