Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi, Jangan Biarkan Kami Zalim ke Sesama

Mak Centong (kiri) menyambangi tempat tinggal Nenek Rola yang menumpang di rumah penjual kue Mentari Cake. Foto: dok. Mak Centong.

Penulis: Erri Subhakti

Surat Terbuka untuk Presiden RI Joko Widodo

Jangan Biarkan Kami Zalim terhadap Sesama

Yang Terhormat Bapak Presiden Jokowi yang kami cintai.

Izinkan saya menulis surat terbuka ini mewakili suara jutaan rakyat Indonesia. Meski saya bukan siapa-siapa, namun ungkapan ini merupakan suara hati kita semua menghadapi tantangan saat ini.

Telah 8 bulan sudah segenap bangsa Indonesia bersama-sama berjuang mengatasi, mencegah, dan menangani pandemi covid-19. Telah banyak dokter, perawat, tenaga kerja dan relawan bidang medis yang meninggal dunia. Ribuan orang meninggal akibat dampak dari virus corona ini. Banyak yang sembuh, tapi juga virus ini masih terus menyebar dan makin banyak yang terkena.

Kita semua telah lelah dengan kondisi ini. Ribuan tenaga kerja harus berhenti. Pengusaha mencoba bertahan hidup sekedar untuk bisa menggaji para pekerjanya, dan tidak mem-PHK. Seorang profesor berganti profesi menjadi ojek online untuk bertahan di masa pandemi. Pekerja EO hanya bisa rebahan pasrah karena tidak ada event off air. Dan banyak lagi kesusahan rakyat Indonesia akibat pandemi covid-19.

Baru-baru ini seorang ibu bernama Restu Sarazwati atau yang dikenal sebagai Mak Centong di media sosial, secara tidak sengaja bertemu seorang nenek yang bekerja menjual pakaian bekas atau gombal. Telah 20 tahun nenek ini mencari nafkah dengan berjalan kaki keliling sekitar Grogol untuk mengumpulkan tabungan haji. Tahun 2020 ini tabungan hajinya telah cukup untuk nenek Rola berangkat ke Kota Mekkah. Namun takdir berkata lain. Virus corona menjadi pandemi di seluruh dunia. Pelaksanaan ibadah haji pun ditiadakan. Usia nenek Rola telah 95 tahun. Mungkin hanya takdir Allah yang bisa menentukan apakah nenek Rola masih bisa beribadah haji di tahun depan, setelah seluruh upayanya mengumpulkan uang selama 20 tahun untuk memenuhi panggilan Allah.

Sungguh kita semua telah zalim terhadap sesama manusia. Tanpa sadar kita semua zalim terhadap seorang nenek berusia 95 tahun yang bersusah payah berjualan gombal selama 20 tahun untuk menunaikan ibadah hajinya.

Malu. Saya malu kepada nenek Rola.

Di mana hati nurani kita semua apabila kita tidak mempedulikan ribuan orang yang terkena dampak pandemi covid-19. Di mana akhlak (perilaku baik) kita jika kita dengan sengaja malah membuat dan menjadikan media penyebaran virus tambah lebih banyak lagi?

Apa mau menghancurkan negeri ini? Mau memporakporandakan bangsa ini? Berbuat zalim pada nenek Rola nenek Rola yang lainnya? Malukah kita?

Kami mohon agar Bapak Presiden menggunakan kewenangan penuh yang telah diamanahkan kepada Bapak di pemerintahan presidensial ini. Koalisi parlemen mayoritas mendukung Bapak. Jajaran kementerian adalah para pembantu Bapak yang hanya menjalankan visi presiden tanpa visi pribadi. Bapak memiliki hak prerogatif penuh terhadap pion-pion Bapak di kabinet. Tegak luruskan seluruh perintah bapak hingga menyentuh rakyat.

Anggaran untuk mengatasi pandemi covid telah Bapak alokasikan triliunan rupiah. Turun hingga ke rakyat, entah cuma bernilai sekitar Rp200 ribuan dalam bentuk kebutuhan pokok. Itu pun masih banyak rakyat tak kebagian atau salah sasaran.

Tindak tegas bagi para pelanggar UU Kekarantinaan Kesehatan. Jangan sampai dibiarkan hanya karena alasan politik. Pandemi covid-19 adalah musuh bersama seluruh bangsa Indonesia. Maka bagi mereka yang malah membuka peluang terjadinya penularan virus corona menjadi lebih tinggi, merekalah para penghianat bangsa dan negara di masa sekarang.

Hormat kami,
Erri Subhakti
Pimpinan Redaksi SintesaNews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here