Ulama dan Politik, Pertaruhan Suara Ulama dalam Pusaran Konstelasi Politik

Penulis: Islah Bahrawi

Pada awal Nopember 1914, di seluruh Kekaisaran Ottoman, para ulama dan imam Masjid membawa pesan jihad kepada orang-orang dalam khotbah Jumat mereka. Syekh Urguplu Hayri, otoritas keagamaan tertinggi mengeluarkan fatwa, yakni memanggil umat Islam di seluruh dunia untuk berjihad melawan Kekaisaran Entente dan menjanjikan status Syahid jika mereka jatuh dalam pertempuran.

Inilah titik awal Perang Dunia Pertama, sebuah rencana yang disepakati oleh kekaisaran Ottoman dan Jerman di Berlin untuk membuat pemberontakan di antara populasi Muslim melawan kekaisaran Entente. Rencana perang “Jihad” ini bertujuan agar Ottoman bisa menguasai wilayahnya yang lepas pada Perang Balkan ke-I tahun 1912. Tapi ternyata perang itu mengalami kekalahan dan gagal. Pertanyaannya, apakah doa-doa dan anjuran para ulama itu tidak manjur? Bukankah mereka merasa lebih dekat kepada Tuhan?

Rencana Tuhan adalah wilayah diskresi yang tak bisa diintervensi. Seringkali para agamawan “dipermalukan” oleh Tuhan dengan rencana-rencana yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Para agamawan itu mungkin saja berpengaruh bagi manusia, tapi belum tentu bagi Tuhan. Ambisinya, belum tentu berbanding lurus dengan rencana keilahian. Terlebih dalam dunia politik yang lekat dengan soal duniawi, keinginan seorang rakyat jelata bisa jadi lebih didengar dibanding seorang tokoh agama.

Ulama yang memberikan anjuran kepada umat untuk keberpihakan dalam urusan politik, adalah mutlak kehendak pribadinya, bukan agamanya. Politisasi agama sejak dulu telah mengalami sejarah kegagalan yang panjang – Tuhan seolah ingin menunjukkan ketidaksetujuannya. Mungkin Tuhan tidak suka namaNya dibawa-bawa dalam urusan keberpihakan politik, apalagi seremeh Pilpres atau Pilkada, karena sejatinya Tuhan milik siapa saja.

Untuk urusan dakwah agama, mungkin saja seorang ulama merasa punya banyak penggemar, tapi dalam politik bisa jadi ia tak didengar. Jadi, sementang pendakwah agama janganlah jumawa dan merasa paling tinggi, karena agama mengajari kita untuk tetap membumi. Jika tidak, Tuhan mungkin akan mempermalukannya berkali-kali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here