Virus Nipah Jangan Sampai Masuk Indonesia, Pemerintah Harus Cegah Pendatang dari India dan Bangladesh

Penulis: Langit Quinn

Virus Nipah sedang mewabah di India, ghaiz. Dua orang dikabarkan meninggal. Tepatnya di Kerala, negara bagian di India Selatan.

Hal ini pun membuat Pemerintah India melakukan lockdown dan menutup sejumlah sekolah dan beberapa kantor.
Bahkan beberapa warga kembali menggunakan masker.

Virus ini memang bukan virus baru. Tapi sudah beberapa kali mewabah di beberapa negara.

Cuma dengar-dengar, tingkat kematianya lebih parah dari Covid. Semisal dari 4 orang terjangkit, 3 orang meninggal, jadi tingkat kematiannya sekitar 75%. Dan lagi virus ini belum memiliki vaksin 😔

Gimana dengan Indonesia?

Asal jangan kasih masuk orang-orang yang dari India, Bangladesh dan sekitarnya kemungkinan bakalan gak kenapa-napa.

Semoga pemerintah gercep buat melarang orang-orang dari negara-negara tersebut masuk ke sini.

Soalnya aku trauma sama banyak kematian gegara covid.

Menurut Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyampaikan bahwa potensi virus Nipah yang kini sudah menyebar di Kerala, India untuk masuk ke Indonesia masih jauh. Namun menurutnya, meskipun kemungkinannya kecil, potensi penyebaran virus Nipah ini masih tetap ada.

Apa itu virus Nipah?

Infeksi virus Nipah adalah “penyakit zoonosis” yang ditularkan dari hewan seperti babi dan kelelawar buah ke manusia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Virus ini juga dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi, dan melalui kontak dengan orang yang terinfeksi.

Wabahnya terjadi hampir setiap tahun di beberapa negara Asia, terutama Bangladesh dan India.

Apa saja gejala virus Nipah?

Gejala virus Nipah pada manusia mulai dari yang tidak bergejala hingga infeksi saluran pernapasan akut (ringan, berat), sampai ensefalitis (pembengkakan otak) yang fatal.

Orang yang terinfeksi sering kali mengalami gejala-gejala yang meliputi demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan sakit tenggorokan.

Hal ini dapat diikuti dengan pusing, mengantuk, kesadaran yang berubah, dan tanda-tanda neurologis yang mengindikasikan radang otak (Ensefalitis) akut.

Beberapa orang juga dapat mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut.

Ensefalitis dan kejang terjadi pada kasus yang parah, dapat berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Masa inkubasi (interval dari infeksi hingga timbulnya gejala) diyakini berkisar antara empat hingga 14 hari. Namun, kasus masa inkubasi selama 45 hari pernah terjadi.

Nipah membunuh hingga 75% dari mereka yang terinfeksi.

Apakah ada vaksinnya?

Belum ada vaksin atau pengobatannya.

Penanganannya masih terbatas dalam mengatasi gejala dan perawatan intensif.

Di mana saja wabah sebelumnya?

Wabah Nipah pertama menewaskan lebih dari 100 orang di Malaysia dan mendorong pemusnahan satu juta ekor babi sebagai upaya untuk membasmi virus tersebut.

Virus ini dinamai sesuai dengan nama desa tempat virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1999.

Virus ini juga menyebar ke Singapura. Di negara ini terdapat 11 kasus, dan satu kematian di antara para pekerja rumah jagal yang bersentuhan dengan babi-babi yang diimpor dari Malaysia.

Bangladesh juga memikul wabah ini dalam beberapa tahun terakhir, dengan lebih dari 100 orang meninggal akibat Nipah sejak 2001.

Secara berkala, penyakit ini juga terdeteksi di India, dan ini adalah wabah keempat di Kerala sejak tahun 2018.

Negara bagian ini telah berhasil membasmi wabah sebelumnya dalam hitungan minggu melalui tes luas dan isolasi yang ketat terhadap mereka yang pernah melakukan kontak dengan pasien.

Tempat-tempat lain yang berisiko terinfeksi termasuk Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand, menurut WHO, karena bukti-bukti virus telah ditemukan pada kelelawar di negara-negara ini.

Berharap gak masuk Indo ya ghaiz ya…

Nyenyenyenyenyenyenye🥴

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here