Utang Susi Air Diperkirakan Capai Rp 1 Triliun, Terancam Pailit, Susi Menyerah

Pesawat Susi Air. Sumber foto: airmagz.

Penulis: Erri Subakti

Dari sumber seorang pakar bisnis terkemuka, diperkirakan utang maskapai Susi Air mencapai Rp 1 triliun. Hal ini merupakan dampak dari pandemi covid-19 yang mengakibatkan ketiadaan penerbangan selama berbulan-bulan.

Pemilik Susi Air, Susi Pudjiastuti pada pertengahan semester tahun 2020 lalu mengatakan bahwa ia memutar otak untuk dapat bertahan saat pandemi covid-19 ini.

Cabang-cabang Susi Air di berbagai daerah terpaksa banyak yang ditutup. Para karyawan dirumahkan.

“Tapi, kalau tidak kembali (terbang), kan harus shutdown total, harus give up, kalau dalam Undang-undang kepailitan ya kita harus menyatakan pailit,” ujar Susi pertengahan tahun lalu (12/6/2020).

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini mengatakan, jika nantinya mengalami defisit dan pailit, maka harus menjual aset-aset Susi Air. Tapi, untuk menjual tersebut tidak akan mudah di saat wabah ini.

“Jadi economicly we just stay to probality shutdown, tapi saya tidak tahu recovery akan membantu (atau tidak),” jelasnya.

“Pandemi ini sangat buruk untuk dunia bisnis. Saya tidak pernah mengalani krisis sehebat ini. Saat krisis 98 dulu justri menjadi angin segar karena saya mengambil kesempatan untuk melakukan ekspor seafood, pendapatan saya dalam mata uang dollar kala itu,” ujar Susi dalam video conference, Jumat (5/6/2020).

“Dari 180 penerbangan sehari, kini tidak ada sama sekali (penerbangan Susi Air). Saya harus melakukan restrukturisasi pegawai, memikirkan biaya setiap pekan, setiap bulan,” ujar Susi.

“Di April, (pesawat) di setiap bandara mulai tidak bisa terbang kemana-mana, hingga akhirnya Jakarta berhenti sama sekali,” terangnya.

Meski tak ada aktivitas penerbangan berbulan-bulan, pengeluaran tetap harus dikakukan untuk sejumlah keperluan. Misalnya mengurus TP BPKB dan STNK pesawat, surat izin terbang pilot, mengurus security clearance untuk 24 pegawainya, dan sebaginya.

“Hal semacam ini terus ada, beban terus ada. tapi penerbangan tidak ada sama sekali,” kata Susi.

“Kalau saya pikir ekonomi sulit dalam hidup saya bekerja dan usaha itu ya kali ini, bukan sulit lagi, it’s shut up, nihil,” kata Susi tahun lalu dalam Talk Show Info Corona di Graha BNPB, Jakarta Timur, 12/6/2020.

Dengan ketiadaan pendapatan sementara biaya perawatan dan operasional lain tetap berjalan, utang maskapai menumpuk yang harus diselesaikan kewajibannya ke salah satu bank BUMN.

Sementara Susi belum mendapatkan keringanan, rumornya ia meminta bantuan dari pemerintah, tapi istana nampaknya enggan ikut campur.

Ke mana Susi selanjutnya meminta bantuan untuk mengatasi beban tinggi dari maskapainya yang terancam bangkrut?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here