Banjir di Kalsel Bukan Salah Tukang Rujak, Salah Siapa? Yak Betul Salah Jokowi

Citra satelit Kalimantan.

Penulis: Erri Subakti

Kalimantan.

Pohon-pohon segede alahium gambreng yang diameter pokoknya bisa 6 meter sudah dibabat sejak jaman mbah Harto, terus menerus sampe ke tengah kalimantan, pedalaman tengah Kalimantan.

Baik yang legal maupun illegal.

Lalu setelah dibabat pohon-pohon itu lahannya gimana?

Memang mulai tumbuh tanaman-tanaman baru, pohon-pohon kecil baru, jadi hutan sekunder. Tapi jelas beda penyerapan air di tanahnya dibanding saat masih ditumbuhi pohon-pohon segede alaihum gambreng.

Mulai masuk pengusaha perkebunan sawit, juga sejak jaman mbah Harto. Memanfaatkan lahan-lahan bekas logging (penebangan hutan) menjadi HGU (hak guna usaha) perkebunan sawit.

Masyarakat dilibatkan jadi petani sawit, buruh sawit, dan karyawan di perusahaan.

Pasang surut hubungan perusahaan dengan masyarakat. Tapi seiring waktu pendapatan masyarakat meningkat karena usaha sawit.

Tergiur dengan kesuksesan orang-orang yang tekun di sawit, menularlah usaha masyarakat untuk berkebun sawit. Land clearing (pembersihan lahan) terkadang mereka lakukan dengan membakar lahan mereka. Hasil pembakaran lahan konon bisa lebih menyuburkan tanah.

Makin banyak masyarakat yang memiliki lahan perkebunan sawit, dari cuma 2 hektar hingga puluhan hektar. Usaha sawit ini memang menjanjikan untuk di level masyarakat. Mendongkrak ekonomi.

Ditambah… batu bara… dan seperti sawit, lahan penambangan batu bara legal dan illegal juga memanfaatkan lahan bekas penebangan hutan/logging.

Bekas penambangan pun tak bisa lagi tumbuh tanaman baru. Kalau sawit masih mending, usianya 25 tahun pohonnya. Kalau tak lagi diurus, akan tumbuh tanaman atau pohon lainnya di sekitarnya, bisa kembali menjadi hutan. Kalau bekas tambang, tak bisa lagi lahan itu ditumbuhi pepohonan baru.

Sudah 3 faktor penyebab banjir Kalsel:

  1. Logging/penebangan hutan sejak jaman mbah Harto
  2. Pemanfaatan lahan logging dengan perkebunan kelapa sawit. Dan menular ke masyarakat usaha perkebunan sawit ini
  3. Pemanfaatan lahan bekas logging menjadi tambang batu bara.

Dan ada 1 lagi faktor kenapa Banjarmasin, Banjar Baru, Martapura, dan sekitarnya kebanjiran dahsyat sepekan ini. Yaitu drainase kota yang buruk.

Banjarmasin tumbuh menjadi kota yang “meniru” Jakarta tahun 80-an. Banjarmasin berkembang menjadi seperti kota Bekasi tahun 90-an. Tumbuh kembang secara sporadis tanpa perencanaan matang. Dengan perkembangan ekonomi masyarakat, makin banyaknya penduduk dan pemukiman, pemerintah provinsi/kota tak melihat pentingnya drainase yang baik. Tak memiliki visi mau jadi bagaimana provinsi dan kota tersebut ke depan.

Dan 1 lagi. Izin-izin lahan perkebunan sawit dan tambang yang legal maupun illegal, pasti tergantung dari izin kepala daerahnya.

Kalau sudah banjir besar begini siapa yang salah?

Fiuuh…. emang paling enak zaman Jokowi. Apapun bencananya, Jokowilah yang salah.

Jokowi lebih salah dari tukang rujak yang ngisi aquarium dengan buah-buahan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here