Jangan Ngopi di Kedai Kopi Jam 6 Sore di Timor Leste, Kenapa?

SintesaNews.com – Cerita unik dikisahkan oleh Damar Juniarto Direktur SAFEnet ketika mengunjungi Timor Leste bulan Desember 2019 lalu. Eks VP Gojek Indonesia untuk Hubungan Pemerintah itu ke negara tetangga dalam rangka memberikan pelatihan mengenai dunia digital di sana.

“Sore hari sekira jam 6 sore saat waktu luang kita ke kedai kopi Letefoho, kita di lantai 2 ngobrol, tapi aneh baru sebentar ngopi, mereka sudah mau tutup. Ternyata kedai kopi di sana tutup jam 7 malam. Kita turun ke bawah, benar saja semua sudah dibereskan dan kedai bersiapsiap mau tutup,” kisah Damar.

Jadi jangan harap akan kita temukan orang ngopi di kedai kopi atau cafe di atas jam 7 malam di Timor Leste, tak akan ditemui.

Padahal kopi Letefoho merupakan salah satu kopi terbaik di dunia. Kopi Letefoho diekspor ke Australia dan Jerman.

“Kenapa tutup jam 7 malam? Karena capek jualan dari pagi. Mungkin ya. Hampir semua tutup jam 7 malam, supermarket, cafe. Tidak semua karena beberapa restoran masih buka, mau sunda-an di New Lilis, masakan Indonesia di Starco, bakso/mie goreng di pantai, bebakaran ikan di Pantai Kelapa,” jelas Damar.

“Selain itu di atas jam 7 malam, kendaraan umum tinggal hanya taksi yang beroperasi, kecuali bawa kendaraan sendiri. Penyebab lain kenapa cafe tutup jam 7 malam, cafe harus bayar overtime yang mahal buat pegawainya,” katanya.

Pengalaman serupa juga diungkapkan oleh Inu Mahfud MSc, sosiolog dari UI yang juga bersama Damar Juniarto memberikan pelatihan web development dan media research.

“Di sini jarang sekali orang-orang menikmati kopi di warung-warung atau coffee shop karena mungkin mereka memilih ngopi di rumah dengan keluarga,” ditambahkan oleh Inu Mahfud.

Kopi bagi orang Timor adalah lambang persaudaraan yang lebih nikmat apabila dinikmati bersama di rumah.

Untuk harga secangkir kopi di Cafe Letefoho, Dili, Timor Leste ini, tidak berbeda jauh dengan harga kopi di cafe-cafe di Jakarta. Pembayaran di sana menggunakan dollar AS. Untuk double  espresso di Cafe Letefoho kalau dirupiahkan seharga Rp 27 ribu. Sementara di Jakarta double espresso ada yang Rp 24 ribu, atau ada yang sampai Rp 30 ribuan.

Tertarik coba kopi atau wisata ke negeri Lorosae?

“Gak nahan ongkos pesawatnya, Rp 5 juta sekali jalan, transit di Denpasar, cuma ada Citilink sama Sriwijaya,” ujar Inu terkekeh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here