Sudjiatmi, Sosok Ibu yang Antarkan Puteranya Menjadi Nomor 1 di Negeri Ini

SintesaNews.com – Lelaki kurus itu dibonceng di atas sepeda motor. Di depannya, ibunya yang menyetir, mengantarkan puteranya sekolah.

Beberapa waktu, sosok ibu yang sederhana itu mengantar jemput anaknya dari dan pulang sekolah. Meski puteranya sudah duduk di bangku SMA, namun karena kondisi puteranya baru mulai pulih dari sakit typus, sang ibu rela melakukan hal itu.

Kawan-kawan si lelaki kurus kerap mengolok-oloknya. Mereka bilang, “Kae kowe dipethuk mbakyumu (Itu kau dijemput kakakmu)”.

Meski begitu olok-olokan itu ia terima dengan kebesaran hatinya.

Adalah Joko Widodo muda, yang sempat frustasi saat menjalani masa SMA. Ia kecewa tidak bisa masuk ke sekolah favorit pilihannya. Padahal prestasinya tidak mengecewakan. Namun takdir berkata lain, mimpinya kandas.

Joko Widodo muda sempat mogok sekolah, menolak makan, mengurung diri di kamar. Hatinya kecewa.

Sang ibu tak menyerah untuk membujuknya agar melanjutkan sekolah. Berbulan-bulan Joko Widodo bergeming. Sang ibu tak pernah menyerah, terus mengobati sakit hati putera sulungnya dengan berbagai cara.

Hingga akhirnya Joko Widodo mau melanjutkan sekolah. Tapi dengan setengah hati. Ia sering bolos. Di rumah pun berjam-jam mengunci diri di kamar. Kondisi seperti ini berlangsung setahun hingga lelaki kurus yang masih patah hati ini terkena penyakit typus.

“Ia benar-benar nglokro,” kenang Sudjiatmi pada Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti penulis buku “Saya Sudjiatmi, Ibunda Jokowi”.

Peran dan doa seorang ibu yang tangguh dan ikhlas tak pernah salah. Tahun berikutnya, sang putera mulai giat belajar hingga kelululusannya. Joko Widodo mendapat hasil yang terbaik. Juara kelas dan lulus menjadi juara umum di sekolahnya. Sang putera pun akhirnya bisa tembus masuk ke Universitas Gajah Mada, di Fakultas Kehutanan.

Tak hanya saat puteranya masih SMA, Sudjiatmi berperan menjadi ibu yang mengembalikan kekuatan mental anak-anaknya.

Ketika sang putera telah memulai berusaha. Produk mebelnya telah menembus pasar nasional dan internasional, di tahun ketiga datang ujian yang sangat berat. Joko Widodo ditipu hingga terbebani utang yang sangat besar untuk bisa dilunasinya. Pesanan telah dikirim namun tak ada pembayaran dan pemesan kabur entah ke mana. Joko Widodo bangkrut ke titik nol. Delapan bulan ia menganggur. Ia nyaris menyerah.

Kembali kejatuhan tak hanya kondisi keuangan, mental lelaki sederhana itu juga ambruk menukik dengan seketika. Berbulan-bulan Joko Widodo patah arang. Sang ibu tetap membuka kedua tangannya dan kembali mengobati jiwa sang putera yang tengah koyak.

Sang lelaki kurus nan sederhana itu kerap datang ke rumah sang ibu tanpa cahaya di wajahnya. “Klemprak-klemprek (tidak bersemangat)”, kenang Sudjiatmi.

Sang ibu terus memompa semangat puteranya agar tak putus asa. Tak lupa doa-doa dalam kesunyian malam selalu ia panjatkan.

“Jangan putus asa. Kalau rezeki yang kita dapat bukan untuk foya-foya, pasti Gusti Allah maringi (memberi). Kalau niatmu mulia, Allah pasti meridhai. Hidup itu tidak selamanya susah, tapi juga tidak selamanya senang,” nasihat Sudjiatmi kala itu.

Sebuah pesan yang tercermin hingga kini pada sosok orang nomor 1 di Indonesia Joko Widodo.

Terimakasih Ibu Sudjiatmi, telah melahirkan sosok pemimpin Indonesia yang mampu memanggul beban berat, membawa negeri ini menuju pada kemajuan dan tantangan berat melalui “badai persoalan” global yang menerpa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here